Isra Mi'raj Perspektif Metafisika Eksakta
*ISRA MI'RAJ PERSPEKTIF METAFISIKA EKSAKTA*
Sejak kecil penulis seringkali mendapatkan cerita perihal karamah para wali yang dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu yang sangat singkat atau teleportasi. Seperti ungkapan dari para jamaah atau murid-muridnya "setiap hari jumat beliau sholat jumat di Mekah", "kemarin saya bertemu dengan beliau di makam Syaikh Abdul Qodir Jailany", dan masih banyak lagi ungkapan dan cerita sampai dengan saat ini perihal hal-hal diluar nalar atau khoriqul 'aadah yang nampak dari para wali Allah. Namun demikian, yang lebih luar biasa lagi yaitu Isra dan Mi'rojnya Nabi Muhammad yang hanya ditempuh dalam waktu semalam.
Sekarang ini mungkin banyak moda transportasi yang dapat menempuh jarak yang jauh dalam waktu singkat seperti Maglev Train atau kereta Maglev yang dimiliki Jepang yaitu kereta berteknologi magnet yang dapat menempuh kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada kereta pada umumnya. Kecepatan Maglev Train milik negara bunga sakura ini dapat mencapai kecepatan maksimum 601 kilometer per jam. Kecepatan ini artinya 2 kali lipat dibanding kecepatan rata-rata kereta cepat pada umumnya yaitu 300 kilometer per jam. Jika isra dilakukan pada saat ini amat sangat mungkin atau tidak mustahil hal demikian terjadi karena jika jarak dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha sekitar 1500 km maka estimasi waktu yang dibutuhkan sekitar 2,5 jaman untuk sampai ke Masjidil Aqsha. Namun demikian, Isra Mi'raj terjadi pada saat teknologi transportasi dan komunikasi belum berkembang pesat seperti sekarang ini, saat kendaraan hanya unta dan kuda, sehingga wajar banyak yang menganggap Nabi Muhammad gila, pendusta dan lain sebagainya. Belum lagi Mi'raj yaitu diperjalankannya Rasul ke sidratul muntaha, langit ke tujuh, yang ditempuh hanya dalam waktu semalam.
Pertanyaan yang seringkali terbersit adalah apakah mungkin seseorang melaju dengan cepat atau teleportasi dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu singkat, Apakah konsekuensi yang ditimbulkan jika melaju cepat atau teleportasi berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dalam sains, kecepatan yang paling cepat di dunia adalah kecepatan cahaya, itupun untuk pergi ke bintang terdekat dengan kecepatan cahaya membutuhkan waktu 4 tahun lebih, kalau begitu kendaraan Rasul (buraq) yang dinaiki saat Isra dan Mi'raj lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Apakah seluruh ummat Islam untuk mencapai kehadirat Tuhan perlu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nabi?
Jarak antara bumi dan sidratul muntaha tak terhingga jauhnya : dalam istilah ilmu pasti, jarak yang tak terhingga ditulis : S = ∞
*Menurut Rumus Mekanika:*
1. : S = v x t
S = Spazium = distance = jarak
V = Velocitas = speed = kecepatan
T = tempo = time = waktu
2. Jadi : Jarak = kecepatan x waktu (lihat nomor 1).
3. : S = v x t; kalau jaraknya S = tak terhingga, maka ditulis : S = ∞
4. Jadi : S = v x t;
*Menurut Ilmu Aljabar:*
5. Kalau : ∞ = v x t, maka v-nya harus (v = ∞).
Atau t-nya harus ( t = ∞ ).
6. Jadi : ∞ = ∞ x t atau ∞ = v x ∞
Waktu yang dipakai Rasulullah SAW berangkat sesudah Isya dan kembali sebelum subuh, katakanlah ± 6 jam pulang pergi, jadi : satu kali jalan menggunakan waktu 3 jam atau t = 3 jam.
7. Diketahui :
2t = 6
t = 3
8. : S = v x t; ∞ = v x t
S = ∞
t = 3 .:. v = ∞ = ∞
3
9. Jadi : v mesti ∞ : v = ∞
∞ Artinya : Bahwa menurut ilmu rumus eksakta di atas, Rasulullah SAW wajib memakai suatu alat/”kendaraan”/faktor/frekuensi /yang berdimensi/ ber-kecepatan tak terhingga/tak terbatas, yang v-nya = ∞. Dan ini ternyata benar! Memang Rasulullah diberikan alat Buraq = kilat, yang kecepatannya dan frekuensinya tak terhingga : v = ∞ diberikan oleh Allah.
Dari uraian tersebut tanpa memakai faktor tak terhingga (∞) siapapun orangnya yang munajat ke hadirat Allah tak kan sampai kepada Allah. Munajat berarti beribadah, berdzikir, shalat, beri’tikaf dan lain-lain.Tidak ada manusia yang dapat sampai kepada Allah hanya dengan mengandalkan akal saja bagaimanapun canggihnya suatu teknologi, karena alat tak terhingga adalah kepunyaan Allah, bukan kepunyaan manusia dan itupun mengapa pada surat al-Isra lafadz yang di gunakannya asraa (memperjalankan) bukan saraa (berjalan). Manusia merupakan makhluk hadits yang serba terbatas sehingga tidak bisa menghasilkan faktor tak terhingga
Alat atau faktor tak terhingga yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad adalah “Nur-Nya”, mau tidak mau harus dapat kita salurkan pada diri kita alat itu juga, karena tidak mungkin ada alat lain yang mencapai Allah selain daripada Nur-Nya. Faktor tak terhingga (∞ ) tidak dimiliki oleh manusia manapun juga, karena tidak Ada manusia yang bersifat tak terhingga (∞ ), melainkan Allah saja, maka Faktor tak terhingga (∞ ) harus diberikan atau dimasukkan oleh Allah pada manusia, sehingga manusia dapat berkomunikasi dengan Allah.
Untuk mencapai frekuensi yang sama, ruhani seseorang harus dapat digabungkan dengan ruhani Nabi Muhammad, sebagai “SATELIT” Allah di alam semesta ini, yang senantiasa langsung berkomunikasi dengan ALLAH SWT, seperti frekuensi stasiun radio Serang, selalu menggabungkan diri dengan frekuensi pusat Jakarta, dan kita akan mendengar langsung siaran pusat Jakarta pada radio kita yang sedang distel dengan frekuensi stasiun radio Serang. Begitu juga, sewaktu menyaksikan Manchaster United dan Liverpool bertanding di stadion Old Trafford, dengan menyetel tv pada stasiun Serang, Serang menggabungkan diri dengan Jakarta dan Jakarta dengan palapa dan palapa dengan Old Trafford, sehingga dapat melihat pertandingan bola di layar tv Serang.
Wallahu A'lam bis Showaab
Mochamad Bukhori Zainun
(MATAN pandeglang)
(MATAN pandeglang)


Tidak ada komentar untuk "Isra Mi'raj Perspektif Metafisika Eksakta"
Posting Komentar