Keserakahan Manusia, Sering Menciptakan Tuhan-tuhan Kecil Pada Dirinya
Matan Pandeglang - Manusia dikenal sebagai makhluk sosial yang sering membutuhkan makhluk lain. Tapi dizaman yang semakin berkembang dan maju membuat kehidupan dan prilaku manusia semakin diambang-ambang kesemerawutan. Kini sebagian manusia gencar meneriak-neriakkan keegoisan dan keserakahannya. Ditengah gencarnya isu agama, mereka saling baku hantam dan menuding ini baik dan itu buruk.
Padahal manusia makhluk yang memiliki akal dan pikiran. Tapi mereka gampang dan mudah bertindak sesuka hati tanpa memikirkan apa yang sudah diperbuat. Bahkan sering membuat aturan-aturan yang kesasar tanpa pikir panjang. Pantas saja Cak Nun juga mengatakan bahwa salah satu bakat paling besar dalam diri manusia memang menjadi binatang; makhluk tingkat ketiga sesudah benda dan tetumbuhan. Binatang plus akal adalah kita. Binatang plus akal tataran - tataran lain dan spiritualisme adalah kesempurnaan seyogianya diperjuangkan oleh manusia.
Akan tetapi, binatang tampaknya lebih beruntung dibandingkan manusia. Dunia dan nilai mereka sudah niscaya dari awal sampai akhir. Sedang dunia manusia, suka menjebak diri dengan kebebasan yang dimilikinya atau yang ia peroleh dari Tuhannya. Manusia merasa bebas untuk memilih, termasuk memilih melebur dengan tatanan masyarakat atau melenyapkan standar-standarnya terhadap nilai kemanusiaan.
Bukan hanya itu saja padahal didalam Al-Qur'an juga sudah dijelaskan QS At-Tin ayat 4-6 :
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya."
Sudah jelas bahwa kita didunia ini yang katanya sebagai manusia mari memperluas sifat ke-Akuan kita ini. Sehingga tidak ada lagi kamu, dia, mereka, melainkan satu kesatuan sebagai makhluk ciptaan-Nya. Tak usah saling sikut mempertinggi dan mengklaim tuhan-tuhan kecil atas diri kita, bahwa kitalah yang paling benar. Bukankah ajaran agama mengingatkan teruslah berbuat kebaikan dimana pun kau berpijak, teruslah merangkul mereka yang terpinggirkan tanpa melihat keyakinan seseorang.
Padahal menurut Muhammad Nursamad Kamba salah seorang tokoh maiyah menuturkan : "Manusia dianugerahi oleh Tuhan kebebasan dan kemerdekaan agar bisa menjelajahi cakrawala semesta ilahi yang luas, tapi manusia membuat aturan-aturan atas nama agama/Tuhan untuk mengekang kebebasan atas kemerdekaannya, dasar manusia."
Lagi dan lagi keserakahan dan nafsu manusia selalu saja membawa malapetaka tanpa melihat sebab-akibat yang ada. Mari Bersikaplah lunak kepada sesama yang berbeda dengan kita. Dinginkanlah pikiran hati dan ego kita yang sering kita ciptakan didalam diri, sibuklah menuai dan memperindah kebaikan diri tanpa mencacati jati diri orang lain. Level kita sudah menjadi manusia, bukan binatang lagi.
Dalam buku Cak Nun yang berjudul Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem saya mengutip sedikit bahwa, "Kamu harus melindungi dua hal pada manusia. Pertama, nyawanya. Jangan sampai membunuh orang, karena itu hak Tuhan. Kedua, martabatnya. Jangan dihina, dilecehkan, jangan tidak diakui eksistensinya, dan jangan dihalangi pilihannya."
Ada orang milih jadi Kristen, ada orang milih makan lontong. Kamu yang suka pecel tidak usah mengutuk yang makan lontong. Kita hormat sama orang lain karena orang lain juga punya hak pribadi. Orang lain menghormatimu karena kamu punya hak pribadi. Siapa yang paling benar ? Yang benar ada di dalam dirimu masing-masing dan jangan dikeluarkan. Surat kebenaran itu datangnya dari Tuhan. Mari kita berpikir lebih rasional, lebih memahami sesuatu secara nalar. Presisinya yang jelas.
Artika, Tangerang 25 Maret 2020.


Tidak ada komentar untuk "Keserakahan Manusia, Sering Menciptakan Tuhan-tuhan Kecil Pada Dirinya"
Posting Komentar