Lockdown Dalam Perspektif Tassawuf
Matan Pandeglang - Wabah penyebaran Virus Corona atau Covid-19 akhirnya sampai ke tanah air. Virus yang berawal dari kota Wuhan, Tiongkok itu telah menyebar ke banyak negara termasuk Indonesia.
Pemerintah pusat dan daerah berkoordinasi untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dan tindak lanjut atas wabah yang telah menjangkiti ratusan orang di tanah air. (info terakhir hingga 15 maret 2020).
Ide untuk melakukan Lockdown atau mengunci kota yang terjangkit virus tersebut mulai bermunculan dari berbagai tokoh masyarakat, ahli kesehatan hingga pihak intelejen.
Sebuah langkah yang tidak mudah jika harus ditempuh oleh pemerintah, pasalnya akan timbul Multiplier Effect dari segala segi kehidupan. Dimulai dari berhentinya roda ekonomi, sekolah diliburkan, hingga kondisi mental masyarakat yang daerahnya mulai terkena virus Covid-19 kemudian Lockdown.
Terlihat jelas bagaimana reaksi warga kota Wuhan saat kota mereka terkena virus Covid-19 dan kemudian pemerirah memerintahkan untuk Lockdown kepada mereka. Teriakan Jiayou Wuhan atau Semangat Wuhan bergema di seantero kota. Mereka saling menyemangati antar warga dan dukungan kepada pemerintah tiongkok dalam menangani wabah virus ini. Sebuah tindakan positif dalam dunia kesehatan dalam menyembuhkan penyakit adalah tetap optimis dan bahagia adalah obat mujarab dalam proses menuju kesembuhan.
Lalu kita lihat juga Italia, negara kedua terbesar yang terkena dampak Virus Corona setelah tiongkok, hampir setiap rumah mengibarkan bendera tiga warna lambang bendera Italia sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah untuk menangani wabah ini.
Kita bisa mencontoh langkah masyarakat kedua negara itu dalam hal menghadapi wabah penyakit ini. Selain itu kita juga perlu saling mendukung, baik sesama masyarakat atau kepada pemerintah, serta menghindari hal-hal yang membuat panik masyarakat.
Lalu jika benar Lockdown itu benar terjadi di kota kita, Apa yang harus kita lakukan?
Dalam Al-hikam, Syeikh ibnu Athailah berpesan:
ورود الفاقات أعياد المريدين
يعني : أن أيام موارد الفاقات أي البلايا والمحن هي أعياد المريدين أي الأيام العائدة عليهم بالمسرات والأفراح . فإنهم من الشهوات التي توصل نفوسهم إلى بلوغ المراد .
“Bertubi-tubinya musibah sesungguhnya adalah anugerah bagi para muridin (orang-orang yang menuju jalan Allah).”
Jika ini adalah bentuk ujian bagi kita, sesungguh nya adalah sebuah anugerah, dan jadikan hal itu untuk mendekatkan diri dengan Allah Ta’ala. Sebaliknya, jika kenikmatan hidup, kebahagian dunia, karir lancar, rezeki bak air bah datang menghampiri hidup kita. Tapi itu membuat kita jauh dari Allah, sesungguhnya itu adalah sebesar-besar nya musibah.
Jika lockdown terjadi, Mungkin ini jalan bagi kita untuk sejenak berhenti, momen untuk istirahat dari segala aktifitas, merenungkan kembali perjalanan hidup kita. Sudah sejauh mana langkah kita? Apakah masih sejalan dengan pesan Tuhan dalam kitab suci-Nya?
Tanpa bermaksud menggurui. MariMari kita renungkan lagi!
Selama ini berapa banyak waktu yang tersisa untuk keluarga ditengah kesibukan aktifitas duniawi kita. Masih adakah waktu untuk mengunjungi orang tua kita. Masih adakah waktu untuk pergi ke majelis taklim menghadiri majelis ilmu untuk memenuhi kebutuhan hati kita?
Perang opini yang masih terjadi selepas pilpres 2019 kemarin harus kita sudahi segera. Sudah saatnya kita rajut kembali ukhuwah yang sempat terputus akan disebabkan oleh banyak hal. Do’a yang sungguh-sungguh, memperbaiki kualitas ibadah, kembali terbiasa dengan hidup sehat, dan belajar mensyukuri nikmat bisa jadi hikmah dibalik semua musibah ini.
Sahabat sekalian, mari kita refleksikan pesan Syeikh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam atas kejadian yang menimpa ini. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan ujian jika kita tidak sanggup melewatinya.
Semoga musibah ini bisa membuat Empati kita sebagai manusia kembali hidup. Jangan pernah berputus asa akan Rahmat allah, karena Allah akan mengabulkan do'a mahluknya dengan jalan-jalan yang Allah kehendaki, bukan dengan jalan-jalan yang kita kehendaki.
Allah akan mengabulkan pada waktu yang Allah kehendaki, bukan pada waktu yang kita kehendaki. Demikian pesan Syeikh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam. Semoga kejadian ini bisa menambah iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Aamiin Ya Mujiibassailiin 🤲.
JIAYOU INDONESIA 🇮🇩
YOU WILL NEVER WALK ALONE
Oleh : Bambang Sudrajat
Kamis, 19 Maret 2020


Tidak ada komentar untuk "Lockdown Dalam Perspektif Tassawuf"
Posting Komentar