Tawakal Atau Tak Berakal ?

*TAWAKAL ATAU TAK BERAKAL!?*


Wabah Covid-19, yang melanda dunia menimbulkan beragam fenomena dan komentar dari mulai masyarakat kecil, para elit, bahkan hingga para pemuka agama. Sebagian orang mengaitkannya dengan musibah, azab, konspirasi dan lain sebagainya. Beragam komentar bermunculan dalam menyikapi wabah Covid-19. Salah satu yang penulis sering dengar yaitu ungkapan "Takutlah pada Allah, jangan takut pada Virus Corona!".

Ungkapan "Takutlah pada Allah, jangan takut pada Virus Corona!" amat sangat tidak bijak saat persebaran Covid-19 semakin meningkat dan banyaknya korban berjatuhan, apalagi jika ungkapan tersebut keluar dari seorang pemuka agama atau seorang terpandang yang memiliki banyak masa. Di dalam islam kepasrahan diri kepada Allah (tawakkal) dalam suatu hal dilakukan setelah adanya ikhtiar atau upaya maksimal. Nabi SAW. pernah menegur seorang pemilik unta, Beliau bersabda:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
Ikat dulu untanya, dan kemudian bertawakkal, pasrah kepada Allah. (HR. Tirmidzi dari Anas bin Malik). Seorang mahasiswa yang mendapatkan IPK rendah tidak seharusnya ia berpasrah diri dengan tidak belajar sama sekali untuk memperbaiki IPK nya apalagi jika ia sampai mengatakan "memang sudah takdirnya seperti ini (mendapat nilai rendah)" tanpa adanya ikhtiar atau usaha maksimal.

Khalifah Umar bin Khathab pernah berencana melakukan kunjungan ke Suriah. Tiba-tiba terdengar berita bahwa di daerah Suriah sedang terjadi wabah penyakit menular. Lalu, Khalifah Umar membatalkan rencana kunjungannya itu. 
Para sahabat banyak yang protes atas sikap Kahlifah Umar. ''Apakah Engkau hendak lari dari takdir Allah?'' tanya mereka. Umar menjawab: ''Aku lari dari takdir Allah menuju ke takdir Allah yang lain.''

Tidak ada yang meragukan tingkat keyakinan akidah Khalifah Umar bin Khattab. Namun, Beliau tetap berusaha menghindari penularan wabah virus penyakit dengan cara tidak jadi datang ke Suriah. Sikap beliau tersebut bukan berarti beliau takut kepada wabah virus dan tidak berlandaskan sama sekali namun sebaliknya sikap dan usaha Khalifah Umar bin Khattab menghindari atau mencegah penularan wabah virus ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW, 

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

Apabila kamu mendengar berita wabah virus menjangkiti suatu negeri, maka janganlah ke sana, tapi jika telah terjadi wabah virus di suatu negeri dan kamu berada di dalamnya, maka jangan kamu keluar lari dari padanya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Auf).

Berdasarkan hadis dan sikap Khalifah Umar bin Khattab tersebut menunjukkan bahwa tawakal tidak berarti memasrahkan diri secara total tanpa adanya usaha atau tindakan preventif untuk mencegah atau menghindari bahaya atau wabah. Dalam menyikapi wabah ini masyarakat dituntut untuk melakukan ikhtiar dengan cara preventif, menghindari, mencegah atau isolasi terutama bagi pengidapnya agar tidak semakin meluas penularannya. Begitu juga berusaha mengobati, bagi mereka yang sudah terserang penyakit, diiringi dengan kekuatan doa. 

Menutup tulisan ini ada suatu ungkapan, "tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal", sehingga termasuk kedalam kelompok manakah kita dalam menyikapi wabah Covid-19 ini, 

tawakal atau tak berakal!?

Mochamad Bukhori Zainun
Matan Pandeglang
Matan Pandeglang Mahasiswa Ahlit Thariqah An-Nahdliyah (MANTAN) Pandeglang - Banten.

Tidak ada komentar untuk "Tawakal Atau Tak Berakal ?"