5 Ulama Internasional Dari Pesantren

Matan Pandeglang
MATAN PANDEGLANG - Ulama yang masyhur di dunia Islam Internasional juga banyak di lahirkan dari tanah Nusantara (read_Indonesia), yang bukan hanya seorang kiai biasa, namun juga seorang pengarang kitab yang produktif dan mengajar di luar Nusantara, seperti Kota Makkah dan Madinah serta lain sebagainya. Yang bukan hanya masyhur atau terkenal di tanah kelahirannya (Indonesia), namun juga tersohor ke antero dunia. Mereka adalah :
  1. Syeikh Nawawi Al-Bantani (W. 1897 M)
  2. Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (W. 1916 M)
  3. Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi/At-Tarmasi (W. 1920 M)
  4. Syeikh Ihsan Al-Jamfasi (W. 1952 M)
  5. Syeikh Yasin Al-Fadani (W. 1990 M).
Beliau semua itu dikenal sebagai ulama internasional karena dua alasan. Pertama, mereka tinggal di Mekkah dan mengajar disana hingga akhir hayat. Kedua, mereka menulis dalam bahasa arab dan sebagian besar karyanya di terbitkan oleh penerbit-penerbit di Timur Tengah.

1. Syeikh Nawawi Al-Bantani (W. 1314 H/1897 M)


5 Ulama Internasional Dari Pesantren

Syaikh Nawawi al-Bantani adalah penulis kitab kuning (Mushannif) asal Indonesia yang paling terkenal diantara para mushannif lainnya. Namun masih banyak orang yang belum tahu bahwa ada dua nama Ulama Tersohor di dunia internasional yaitu Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Imam Al-Nawawi Al-Dimasqi (Damaskus). Adapun yang membedakan diantara Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Imam Al-Nawawi adalah penambahan “al”  di depan namanya. Syeikh Nawawi yang berasal dari Banten tanpa ada tambahan "al", sedangkan Imam  Nawawi yang berasal dari Damaskus selalu ada tambahan "al" (al-Nawawi).

Jika ditelusuri silsilahnya Syeikh Nawawi al-Bantani masih keturunan Nabi Muhammad saw. Silsilah lengkapnya adalah, Muhammad Nawawi (Syaikh Nawawi al-Bantani) bin kiai Umar bin kiai Arabi bin Ali bin Ki Jamad bin Ki Janta bin Ki Masbuqil bin Ki Maskun bin Ki Maswi bin Tajul Arsy (Pangeran Suryararas) bin Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah Cirebon bin Raja Amatuddin Abdullah bin Ali Nuruddin bin Maulana Jamaluddin Akbar Husain bin Imam Sayyid Ahmad Syah Jalal bin Abdullah Adzmah Khan bin Amir Abdullah Malik bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin Sayyid Ali Khali Qasim bin Sayyid Alwi bin Imam Ubaidillah bin Imam Ahmad Muhajir Illalah bin Imam Isa al-Naqib bin Imam Muhammad Naqib bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain bin Sayyidatuna Fathimaj al-Zahra binti Nabi Muhammad saw.

Silsilah yang disebutkan ini adalah garis keturunan dari jalur ayah. Adapun garis keturunan dari jalur ibu yaitu Syeikh Muhammad Nawawi (Syaikh Nawawi al-Bantani) bin Nyai Zubaidah bin Muhammad Singaraja. Syeikh Nawawi adalah anak sulung. Tokoh sekaligus Ulama tersohor ini mempunyai enam adik kandung, yaitu Ahmad Syihabuddin, Tamim, Said, Abdullah, Syakilah, dan Syahriyah. Syeikh Nawawi Al-Bantani lahir pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820 M) dari kerajaan Banten.

Syaikh Nawawi al-Bantani belajar kepada ayahnya sejak usia delapan tahun, beliau diajarkan dasar-dasar agama Islam dan bahasa arab. Ketika berusia delapan tahun, Syeikh Nawawi Al-Bantani bersama kedua adiknya, yaitu Tamim dan Ahmad belajar kepada Haji Sahal, seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Kemudian, setelah belajar kepada Haji Sahal, mereka bertiga belajar kepada Raden Haji Yusuf, seorang ulama yang tinggal di Purwakarta. Yang menarik, ketika berangkat belajar, Syeikh Nawawi Al-Bantani yang masih berusia delapan tahun dan kedua saudaranya meminta izin kepada ibunya, lalu apa jawab sang ibu, Nyai Zubaidah?

"Aku do'akan dan aku restui kalian berangkat mengaji, tapi dengan satu syarat : Jangan pulang sebelum kelapa yang aku tanam ini berbuah!" begitu kata Nyai Zubaidah.

Diperkirakan Syeikh Nawawi Al-Bantani dan kedua adiknya belajar di pesantren selama enam tahun karena pohon kelapa paling cepat berbuah membutuhkan waktu enam tahun. Kali ini Kiai Umar memiliki tenaga pengajar yang handal untuk membantunya mengajar para santri. Kiai Umar wafat ketika Syeikh Nawawi Al-Bantani berusia 13 tahun, maka Kiai muda inilah yang akhirnya meneruskan pengajian yang bertempat di masjid tersebut. Tetapi itu tidak lama, ketika berusia 15 tahun Syeikh Nawawi Al-Bantani berketetapan hati untuk melangsungkan ibadah haji ke tanah suci sekaligus belajar disana. Kemudian beliau sempat pulang ke tanah kelahirannya sekali, lalu berangkat lagi, dan beliau tidak pulang lagi ke Nusantara.

Selama hidupnya, Syeikh Nawawi Al-Bantani menikah sebanyak dua kali. Istri pertamanya bernama Nasimah dan istri keduanya bernama Hamdanah. Dari istri keduanya, Syeikh Nawawi Al-Bantani dikaruniai lima orang anak, yaitu Mariam, Nafisah, Ruqayah, Zuhra dan Abdul Mu'thi. Hanya Abdul Mu'thi satu-satunya anak lelaki Muhammad Nawawi. Abdul Mu'thi pun meninggal sewaktu masih kecil. Maka, disampul kitab “Nihayah Al-Zain” akan kita temukan nama Abdul Mu'thi yang artinya "Ayah Abdul Mu'thi". Ada salah satu cucu Syeikh Nawawi Al-Bantani yang namanya tidak asing bagi masyarakat Jakarta atau Indonesia pada umumnya. Beliau adalah K.H M'aruf Amin (L. 1943 M.), tokoh yang pernah menjadi wakil ketua PWNU DKI Jakarta, Syuriyah dan Mustsyar PBNU, hingga menjadi Ketua Komusi Fatwa MUI Pusat, bahkan wakil presiden RI 2019-2024 saat ini.

Syeikh Nawawi Al-Bantani berangkat ke tanah suci pada 1830 M dalam usia 15 tahun. Pada 1833 M, beliau sempat pulang ke tanah kelahirannya, namun kembali lagi ke Mekkah karena di Banten merasa kurang memiliki kebebasan dalam bertindak akibat penjajah Belanda yang terus mengawasi gerak geriknya. Kurang lebih 30 tahun Syeikh Nawawi Al-Bantani memperdalam ilmunya di tanah Hijaz. Selama disana, Syeikh Nawawi Al-Bantani berguru kepada sejumlah Ulama besar. Diantara mereka adalah Syeikh Sayyid Ahmad Al-Nahrawi, Syeikh Ahmad Dimyathi, Syeikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syeikh Muhammad Khatin Al-Hanbali, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Yusuf Sumbulaweni, dan Syeikh Abdul Hamid al-Daghastani. Syeikh Nawawi al-Bantani tinggal di Mekkah, tepatnya di perkampungan Syi'ib Ali yang berjarak kurang lebih 500 meter dari Masjidil Haram. Di tempat inilah Syeikh Nawawi Al-Bantani tinggal hingga akhir hayatnya.

Martin Van Bruinessen, seorang antropolog asal Belanda, menginformasikan bahwa Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah salah satu dari tiga ulama besar asal Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Dua orang lainnya adalah Syaikh Mahfuzh Al-Turmusi (W. 1335 H/1917 M) dan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (W. 1334 H/ 1816 M).

Ada juga Pendapat lain menyebutkan, bahwa Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah salah satu dari tujuh orang yang berkesempatan mengajar di Masjidil Haram. Empat orang lainnya adalah Syeikh Muhtaram asal Banyumas, Syeikh Bakir asal Banyumas, Syeikh Asy'ari asal Bawean dan Syeikh Abdul Hamid asal Kudus. Banyak tokoh Islam atau ulama asli Indonesia yang pernah belajar kepada Syeikh Nawawi Al-Bantani. Diantara mereka adalah Syeikh K.H. Muhammad Khalil Al-Bangkalani (Bangkalan Madura) (W. 1925 M), Hadratussyeikh K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari (W. 1947 M), Syeikh K.H. Ahmad Dahlan (W. 1923 M), dan K.H. Nahjun dari kampung Gunung Mauk Tangerang.

Syeikh Nawawi Al-Bantani termasuk ulama yang produktif, karya-karyanya yang lahir membahas tentanf disiplin ilmu keislaman, seperti Fikih, Tasawuf, Tafsir, Akidah (Teologi), dan lain-lain. Karya terbesar Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah “Marah Labid li Kasyf Ma'ani Al-Qur'an Al-Majid” yang juga disebut “Al-Tafsir Al-Munir Li Ma'lim Al-Tanzil”. Kitab ini terdiri atas dua jilid besar, jilid pertama terdiri dari 511 halaman dan jilid kedua terdiri dari 476 halaman. Diantara penerbit di Timur Tengah yang telah menerbitkannya adalah Dar al-Fikr Beirut, Lebanon. Karena karyanya ini, Syeikh Nawawi Al-Bantani dijuluki Sayyid 'Ulama' al-Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz). Butuh waktu tiga tahun (1302-1305 H/1887-1890 M) Syeikh Nawawi Al-Bantani untuk menyelesaikan karya monumentalnya ini.

Kitab yang pertama kali ditulis oleh Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah “Sullam al-Munajah Syarh Safinah al-Shalah”. Kitab ini ditulis hanya dalam beberapa hari saja. Kitab ini ditulis untuk dipersembahkan kepada gurunya yang bernama Sayyid Ahmad al-Nahrawi. Berikutnya menyusul kitab-kitab yang lain. Orang yang berjasa dalam penerbitan karya Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani Al-Jawi, seorang ulama asal Patani, Thailand, yang menjadi pengajar di Mekkah.

Syeikh Nawawi Al-Bantani memiliki postur tubuh yang kecil, seperti orang Indonesia pada umumnya. Konon Syeikh Imam Nawawi Al-Bantani tidak suka makan ikan laut sejak kecil. Ada dua kemungkinan mengapa ulama asal Banten ini tidak mau makan ikan laut. Pertama, Syeikh Nawawi Al-Bantani melaksanakan anjuran dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim agar pelajar tidak banyak makan ikan laut. Dalam kitab tersebut dikatakan, Jalinus atau Galen, yang merupakam seorang filosofi asal Yunani mengatakan bahwa delima itu baik untuk dimakan dan ikan laut itu tidak baik untuk dimakan. Bab tersebut membicarakan makanan apa yang sebaiknya dimakan atau dijauhi oleh pelajar agar sukses dalam mencari ilmu.

Syeikh Nawawi Al-Bantani menghadap pada Sang Pencipta pada tahun 1314 H/1897 H, tepatnya pada 25 Syawal 1314 H. Ulama asal Banten yang sangat produktif ini dimakamkan di pemakaman Ma'la, dikampung Si'ib Ali Mekkah. Meskipun makamnya ada di tanah suci yang ribuan kilo meter jauhnya dari Banten, kampung halamannya, Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Banten. Senantiasa dikunjungi banyak orang setiap tanggal 25 Syawal. Mereka mengadakan haul untuk memperingati wafatnya tokoh yang mengharumkan tanah jawa ini.

2. Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (W. 1334 H/1916 M)


Matan Pandeglang

Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi adalah salah satu ulama besar asal Indonesia yang mendapatkan kehormatan mengajar di Masjidil Haram. Banyak tokoh di Indonesia baik dari kalangan muslim tradisionalis maupun modernis yang menjadi muridnya, misalnya Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah).

Syeikh Ahmad Khatib adalah anak pasangan Abdul Lathif dan Limbak Urai. Abdul Lathif maupun Limbak Urai adalah keturunan bangsawan-ulama di tanah Minang. Abdul Lathif adalah saudara Muhammad Salim, dan Sultan Muhammad Salim adalah ayah KH. Agus Salim (w. 1954 M).  Jadi, Syeikh Ahmad Khatib masih saudara sepupu dengan KH. Agus Salim. Silsilah mereka jika ditelusuri terus keatas akan sampai kepada Abdurrahman bin Tuanku Syaikh Imam Abdullah bin Abdul Aziz, yaitu seorang ulama Minangkabau pada masa perang Paderi. Silsilah lengkapnya adalah Abdul Lathif bin Abdur Rohman bin Abdullah bin Abdul Aziz. Kemudian, Limbak Urai, ibu Syaikh Ahmad Khatib adalah saudara Gadam Urai, dan Gadam Urai adalah ibu Syaikh Thahir Jalaluddin al-Azhari (w. 1956 M). Jadi, Syaikh Ahmad Khatib masih saudara sepupu dengan Syeikh Thahir Jalaluddin. Limbak Urai dan Gadam Urai adalah anak Tuanku Nan Rancak yang juga seorang ulama Minangkabau pada masa perang Paderi. Adapun ibu Limbak Urai dan Gadam Urai adalah anak Siti Zainab binti Tuanku Bagindo Khatib, pembantu regen (bupati) Agam.

Syeikh Ahmad Khatib belajar kepada orang-orang di sekitarnya, familinya dan para ulama di kampungnya. Beliau hidup di lingkungan yang agamis sehingga tidaklah sulit baginya untuk mendapatkan pendidikan agama dari orang di sekelilingnya. Beliau juga masuk Sekolah Rakyat (SR), sekolah formal setingkat SD untuk tingkatan sekolah saat itu, lalu melanjutkan ke Sekolah Guru (Kweekschool) yang dikenal dengan nama Sekolah Raja di Bukit tinggi. Berikutnya, sang ayah mengajak Syeikh Ahmad Khatib menunaikan ibadah haji pada 1871 M (Hamka) atau 1887 M (Deliar Noer).

Syeikh Ahmad Khatib kurang lebih selama sembilan tahun belajar ilmu keislaman kepada sejumlah ulama di tanah suci. Tercatat orang-orang yang pernah menjadi gurunya adalah Syeikh Bakr Syatta, Syeikh Yahya Al-Qalbi, Syeikh Zaini Dahlan, Syeikh Muhammad Shalih Al-Kurdi, dan lain-lain. Martin Van Bruinessen, seorang peneliti asal Belanda, berpendapat bahwa Syeikh Ahmad Khatib pernah belajar kepada Syeikh Nawawi Al-Bantani.

Syeikh Ahmad Khatib dikenal sebagai orang Melayu (Indonesia) yang sopan dan pandai. Syeikh Muhammad Al-Kurdi ingin menjadikan Syeikh Ahmad Khatib sebagai menantunya dengan menikahkan beliau dengan anaknya yang bernama Khadijah. Dan Syeikh Ahmad Khatib pun tidak menolak tawaran dari gurunya ini. Maka, pada 1296 H/1879 M dilaksanakan pernikahan antara Khadijah binti Syeikh Muhammad Shalih Al-Kurdi yang asli Timur Tengah. Kemudian dari pernikahannya ini, Syeikh Ahmad Khatib dikaruniai dua orang anak, yaitu Abdul Karim Al-Khatib dab Abdul Malik Al-Khatib.

Sayangnya, pada tahun 1300 H/1883 M, Khadijah binti Syeikh Muhammad Al-Kurdi dipanggil sang pencipta. Tidak ingin melihat Syeikh Ahmad Khatib terlalu lama menduda, maka Syeikh Muhammad Al-Kurdi menawari Syeikh Ahmad Khatib untuk menikahi adik Khadijah yang bernama Fathimah. Dari pernikahan yang kedua ini, Syeikh Ahmad Khatib mendapatkan dua orang anak, yaitu Khadijah binti Ahmad Khatib dan Abdul Hamid Al-Khatib.

Ada yang mengatakan bahwa keberanian adalah faktor yang sangat menentukan untuk meraih keberhasilan, begitu juga dengan Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Karena keberaniannya, ulama besar kelahiran Minangkabau ini akhirnya diangkat sebagai pengajar di Masjidil Haram. Maka, dengan jabatan menantunya mengajar di Masjidil Haram, Syeikh Muhammad Shalih Al-Kurdi sangat bersyukur. Begitu juga guru-guru Syeikh Ahmad Khatib lainnya. Mengharapkannya tetap di tanah suci untuk membantu mengajar umat Islam di sana. Meskipun tidak pulang ke tanah air, Syeikh Ahmad Khatib tetap memiliki peran dan kontribusi terhadap perkembangan Islam di tanah kelahirannya. Syeikh Ahmad Khatib juga mendukung usaha para pemuda Indonesia untuk lolos dari cengkraman kolonial Belanda, misalnya dengan memberi dukungan penuh terhadap lahirnya organisasi Sarekat Islam (SI).

Syeikh Ahmad Khatib merupakan ulama yang produktif. Menurut H. Zainal Abidin Ahmad sebagaimana dikutip M. Bibit Suprapto, jumlah karya tulis Syeikh Ahmad Khatib mencapai 49 karya, dan sebagian besar karyanya mengulas tentang Fikih. Oleh karena itu banyak tokoh-tokoh besar di tanah air yang menjadi murid dari Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Karya-karya Syeikh Ahmad Khatib dipelajari umat Islam di Suriah, Turki dan Mesir, selain di Indonesia. Ada dua karya ulama asal Minangkabau ini yang masih di pelajari di Pesantren, yaitu “Fath Al-Mubin” dan “Al-Bafahat 'Ala Syarh Al-Waraqat”. Kitab yang disebutkan terakhir ini adalah ulasan atas karya Imam Al-Haramain 'Abdul Malik Al-Juawaini (w. 478 H/1085 M) yang berjudul “Al-Waraqat Fi Ushul Al-Fiqh”.

Ulama besar asal Minangkabau, Indonesia ini menghadap sang pencipta pada 9 Jumadil Awal 1334 H/14 Maret 1916 M. Jenazahnya di kebumikan di tanah Makkah.

3. Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi/At-Tarmasi (W. 1338 H/1920 M)


Matan Pandeglang

Beliau dilahirkan pada tahun 1285 H/1842 M, Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi memiliki nama asli Muhammad Mahfudzh. Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Muhammad Mahfudzh Al-Turmusi bin Abdullah bin Abdul Mannan bin Demang dipomenggolo 1 . Tokoh yang disebutkan terakhir ini masih keturunan Ketok Jenggot, salah seorang punggawa Keraton Surakarta. Ketok Jenggot itulah yang telah berjasa membuka hutan yang kemudian dikenal sebagai Dusun Tremas.

Syaikh Mahfudzh kecil belajar kepada ayahnya sendiri, yaitu Kiai Abdullah yang menjadi pengasuh Pesantren Tremas. beliau lahir ketika pesantren ini berusia 12 tahun, sedangkan Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi lahir pada tahun 1842 M dan pesantren Tremas didirikan pada 1830 M. Beliau juga pernah belajar kepada kakeknya, Kiai Abdul Mannan atau Mas Bagus Sudarso, namun hanya sebentar. Syeikh Mahfudzh sendiri lebih banyak belajar kepada ayahnya. Beerbagai disiplin ilmu keislaman yang dipelajarinya dari sang ayah adalah Ilmu Tauhid, Ilmu membaca Al-Qur'an dan Ilmu Fikih. Cara mengajar sang ayah adalah dengan sistem sorogan, yakni murid atau Syeikh Mahfudzh membaca kitab langsung di hadapan gurunya (Kiai Abdullah). Jika ada bacaan yang salah, guru akan mengingatkannya. Sistem sorogan adalah cara belajar yang dikembangjan pesantren tempo dulu sebelum dikenal sistem klasikal (berkelas-kelas).

Setelah cukup lama belajar kepada sang ayah, Syeikh Mahfudzh melangkahkan kakinya ke Semarang. Kemudian beliau belajar kepada KH. Shaleh Darat, seorang kiai kharismatik saat itu yang dikenal sangat produktif menulis buku-buka agama Islam dalam bahasa jawa pegon. Kiai Shaleh Darat adalah salah seorang Kiai besar di tanah Jawa pada abad ke-19 M. Kiai Abdullah berfikir untuk mempersiapkan penggantinya kelak yang akan mengasuh pesantrennya. Maka, kedua anaknya, Muhammad Mahfudzh (Syeikh Mahfudzh) dan Muhammad Dimyathi dikirim ke tanah suci untuk belajar kepada sejumlah ulama disana. Dan ketika beliau berdua berangkat ke tanah suci, usia Syeikh Mahfudzh saat itu sudah menginjak 30 tahun.

Guru Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi diantaranya:
  1. Syeikh Ahmad Al-Minsyawi, seorang ulama ahli Qiro'at Sab'.
  2. Syeikh 'Amr bin Barkat Al-Syami, seorang ulama besar asal Syam (Suriah) yang masih murid dari Syeikh Ibrahim Al-Bajuri.
  3. Syeikh Musthafa bin Muhammad bin Sulaiman Al-'Afifi, seorang ulama yang ahli Nahwu Shorof dan Ushul Fiqh.
  4. Al-Imam Al-Hasib Wa Al-Wari' Al-Nasib Al-Sayyid Husain, seorang ulama ahli hadits pokok yaitu Shahih Al-Bukhari dan Shahih Al-Muslim.
  5. Syeikh Sa'ad bin Muhammad Bafasil Al-Hadlrami, adalah seorang ulama ahli fikih yang menjabat sebagai mufti Syafi'iyyah di Makkah.
  6. Syeikh Muhammad Al-Syarbini Al-Dimyathi, seorang ulama ahli fikih dan Qira'at yang berasal dari Dimyathi, Mesir dan menetap di Makkah.
  7. Syeikh Al-Jalil Sayyid Muhammad Amin bin Ahmad Ridlwan Al-Daniyyi Al-Madani, seorang ulama besar di Madinah.
  8. Syeikh Sayyid Abu Bakr bin Al-Sayyidi Muhammad Syatha', seorang ulama besar yang mendapat julukan "Syeikh Al-Masyayikh" atau "Gurunya para Guru".

Syeikh Mahfudzh dikenal sebagai Ahli Hadits. Beliau mempunyai otoritas keilmuwan untuk mengajarkan Kitab Shahih Al-Buhkari, kitab hadits paling otoritatif ini kepada umat islam. Syeikh Mahfudzh adalah mata rantai sanad yang ke-23 dari penulis kitab tersebut, Imam Al-Buhkari yang hidup lebih dari 1000 tahun yang lalu. Murid Syeikh Mahfudzh yang paling terkenal adalah Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang. Kiai Hasyim Asy’ari terkenal sebagaj ahli hadits, sebuah keahlian yang diperoleh dari Syeikh Mahfudzh. Selain ahli dalam bidang hadits, Syeikh Mahfudzh juga dikenal ahli Qira'at Sab'. Bahkan, sebenarnya Syeikh Mahfudzh tidak hanya ahli dalam tujuh macam bacaan namun hingga 10 Qira'at (Qira'at 'Asyr). Kesepuluh macam qira'at ini diyakini umat Islam memiliki sanad yang mutawattir hingga Nabi Muhammad SAW yang mustahil salah dalam periwayatannya.

Syeikh Mahfudzh juga berperan dalam penyebaran Tarekat Syadziliyah di Nusantara lewat para muridnya di tanah air. Tarekat Syadziliyah adalah Tarekat yang didirikan oleh Asy-Syeikh Al-Imam Abu Al-Hasan Al-Syadzily (W. 656 H/1258 M) yang memiliki nama lengkap 'Ali bin 'Abdullah bin 'Abd Al-Jabbar Abu Al-Hasan Al-Syadzilly.

Syeikh Mahfudzh termasuk diantara 7 ulama asal Indonesia yang diperbolehkan mengajar di Masjidil Haram. Ke’alimannya telah diakui di dunia internasional. Diantara orang yang pernah belajar kepada Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi adalah Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang, KH. Abdul Wahab Hasbullah Tambakberas, Jombang, KH. Raden Asnawi Kudus, KH. Shaleh Tayu Pati, KH. Dahlan Kudus, dan lain-lain.

Syeikh Mahfudzh telah menetap di tanah suci sejak berusia 30 tahun (1872 M). Sejak awal menginjakan kaki disana, beliau telah membulatkan tekad untuk menetap hingga wafat. Setelah lebih dari 40 tahun menetap di tanah suci, tepatnya pada tahun 1338 H/1920 M Syeikh Mahfudzh menghembuskan nafas terakhirnya di skota Makkah. Pendapat lain mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 1917 M. Ulama besar kelahiran Tremas, Pacitan Jawa Timur ini dimakamkan di pemakaman Ma'la Makkah yang berdekatan dengan Makam Ummul Mu'minin Sayyidah Khadijah R.A.

4. Syeikh Ihsan Al-Jamfasi (W. 1371 H/1952 M)


Matan Pandeglang

Bakri, Bahri atau Bahrul Ulum, itulah nama kecil Syeikh Ihsan. Bakri lahir pada tahun 1901 M dari pasangan KH. Muhammad Dahlan dan Nyai Artimah. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, yaitu anak pertama berjenis kelamin perempuan yang wafat ketika masih kecil, lalu Bakri, Dasuki dan Marzuqi. Sayangnya kedua orangtua Bakr, Kiai Dahlan dan Nyai Artimah, bercerai ketika Bakri masih berusia enam tahun. Setelah orangtuanya bercerai, Bakri dan Dasuki diasuh oleh neneknya yang bernama Nyai Isti'anah di Jampes, beberapa puluh meter utara pabrik rokok Gudang Garam saat ini atau utara kota Kediri. Adapun ibunya, Nyai Artimah tinggal di kampung Banjar Melati, kurang lebih 2 kilometer arah barat daya dari alun-alun kota Kediri. Marzuqi, adik Baqri yang bungsu, ikut tinggal bersama ibunya. Marzuqi ini kelak dikenal sebagai KH. Marzuqi Dahlan (W. 1975 M), pengasuh pesantren Lirboyo. Beliau adalah ayah KH. A. Idris Marzuqi, pengasuh pesantren Lirboyo saat ini.

Orang-orang terdekatnya yang awal mula mengajarinya mengaji. Mereka adalah nenek dan ayahnya, Nyai Isti'anah dan Kiai Dahlan. Selanjutnya Bakri belajar di Pesantren Jampes, pesantren yang didirikan dan diasuh ayahnya. Setelah bekal ilmunya dirasa cukup, Bakri melanjutkan studi nya ke sejumlah pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Beberapa pesantren Selain pesantren ayahnya, pesantren yang pertama kali menjadi tempatnya belajar adalah pesantren Bendo Pare Kediri, Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren KH. Dahlan Semarang, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang, Pesantren Gondonglegi Nganjuk, dan Pesantren Bangkalan Madura.

Meski beliau anak seorang Kiai ternama di Kediri, Bakri tidak pernah menonjolkan dirinya sebagai keturunan orang besar. Setelah dirasa cukup ilmu yang diperoleh, Bakri pulang kembali ke Kediri untuk membantu ayahnya di Pesantren Jampes. Pada 1926 M, Bakri melaksanakan ibadah haji dan sejak saat itu namanya diganti dengan Ihsan yang kelak dikenal sebagai Syeikh Ihsan Al-Jamfasi. Dalam catatan, Syeikh Ihsan menikah sebanyak 5 kali. Gadis yang pertama dinikahinya adalah gadis yang berasal dari Desa Sumberejo, Poncokusomo, Malang. Namun pernikahan ini tidak berlangsung lama. Kemudian Syeikh Ihsan menikah lagi dengan Nyai Rhodiyah, putri KH. Muhyin dari Durenan, Trenggalek yang masih ada hubungan keluarga dengannya. Namun, lagi-lagi pernikahannya berakhir dengan perceraian. Nyai Rhodiyah akhirnya menikah lagi dengan KH. Djazuli Utsman, pendiri pesantren Ploso Mojo, Kediri. Dari rahim Nyai Rhodiyah ini kelak lahir KH. Hamim Thohari Djazuli yang lebih akrab dengan sebutan Gus Miek, tokoh sentral Jama'ah Dzikrul Ghofilin dan pendiri Jama'ah Sema’an Al-Qur'an Jantiko Mantab.

Gus Miek adalah tokoh kharismatik dan nyentrik yang akrab dengan dunia malam. Kemudian Syeikh Ihsan menikah yang ketiga kalinya dengan seorang gadis asal Desa Kapu Pagu Kediri, namun ini juga tidak berlangsung lama. Berikutnya, Syeikh Ihsan menikah yang keempat kalinya dengan gadis dari Polaman Kediri, tapi juga berakhir dengan perceraian. Di tengah status sebagai duda setelah gagal menikah 4 kali, Syeikh Ihsan menulis karya monumentalnya, Siraj al-Tahlibin. Pada tahun 1932 M kepengasuhan pesantren Jampes diserahkan kepada Syeikh Ihsan Jampes. Pada tahun itu pulabeliau menikah yang ke-5 kalinya sekaligus untuk yang terakhir kalinya. Gadis yang dinikahinya bernama Surati asal Desa Kayen, Pagu Kediri. Beliau dulunya adalah murid dari Kiai Dahlan. Kelak Surati dikenal dengan nama Nyai Zainab. Hanya dari pernikahan yang terakhirnya ini, Syaikh Ihsan Al-Jamfasi dikaruniai dengan 8 orang anak yaitu, Husniyah (meninggal sewaktu masih kecil), Hafsah, Muhammad, Abdul Malik, Rumaisa, Mahmudah, Anisah dan Nusaiziyah.

Ribuan orang telah belajar kepada Syeikh Ihsan Al-Jamfasi. Dahulu pada masa Kiai Dahlan santri di pesantren Jampes hanya berjumlah 500 orang, namun pada masa Syaikh Ihsan, santrinya meningkat menjadi 1000 orang.

Apa yang kita tulis adalah cerminan dari apa yang telah kita baca. Begitu dikatakan banyak orang. Ini juga berlaku bagi Syeikh Ihsan. Ulama besar asal Kediri ini memiliki minat baca yang tinggi. Beliau membaca kitab kuning (berbahasa arab) dengan berbagai macam judul dan genre. Beliau juga baca buku-buku berbahasa Indonesia (bertuliskan huruf latin) adalah sesuatu yang masih asing bagi kalangan pesantren saat itu. Jika tidak sedang membaca, ia habiskan waktunya untuk menulis. Maka tidak mengherankan, jika Syeikh Ihsan memiliki karya yang sangat tebal dalam bahasa arab, meskipun tinggal di Kediri, Jawa Timur, tidak di Makkah sebagaimana ulama lainnya. Konon Raja Faruq, penguasa Mesir tahun 1936-1952 M, pernah mengirim utusan kepada Syeikh Ihsan agar bersedia mengajar di Universitas al-Azhar, namun Syaikh Ihsan menolaknya. Beliau lebih memilih mengajar santri-santrinya di pesantren warisan ayahnya.

Karya seseorang dapat hidup lebih lama karena terus dibaca banyak orang. Namun tidak demikian dengan penulisnya. Kitab Siraj al-Thalibin terus dikaji banyak orang di seluruh penjuru dunia hingga detik ini, namun penulisnya telah puluhan tahun meninggalkan tulisannya. Tepatnya pada 12 Dzulhijjah 1371 H/September 1952 M, Syeikh Ihsan menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau meninggal pada jam 12.00, hari Senin. Jenazahnya di makamkan di Desa Putih, kurang lebih 1 kilometer sebelah selatan pesantren Jampes atau kurang lebih 1 kilometer utara pabrik rokok Gudang Garam, Kediri.

5. Syeikh Yasin Al-Fadani (W. 1410 H/1990 M)


Matan Pandeglang

Syeikh Yasin bin 'Isa Al-Fadani, sebenarnya lahir di Makkah bukan di Indonesia. Namun beliau adalah Ulama besar di tanah suci yang berasal dari Indonesia. Nisbah dibelakang namanya, Al-Fadani, menunjukan bahwa nenek moyangnya berasal dari Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Banyak ulama di tanah air ketika sedang menunaikan ibadah haji atau umrah akan menyempatkan diri untuk sowan kepada Syeikh Yasin Al-Fadani. Beliaupun pernah ke Indonesia, tepatnya ke sejumlah pesantren, untuk menemui para Kiai dan memberi ijazah sanad sejumlah kitab yang selama ini menjadi pedoman kaum Ahlus Sunnah Wal Jama'ah atau diajarkan di pesantren. Maka, para Kiai memiliki sanad kitab-kitab yang diajarkan dari Syeikh Yasin Al-Fadani, dari gurunya, dari gurunya, hingga penulisnya.

Nama asli beliau adalah Muhammad Yasin. Lahir di kota Makkah pada 1335 H/1916 M. Adapun nama lengkapnya adalah Abu Al-Faidl 'Alam Al-Din Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani Al-Makki Al-Syafi'i. Kata “Abu al-Faidl” adalah nama kunyah-nya (panggilan), “’Alam Al-Din" adalah nama laqabnya (julukan atau gelar), "Muhammad Yasin" adalah nama 'Alamnya (nama diri), "Muhammad Isa" adalah nama ayahnya, "Al-Fadani" adalah nisbat nenek moyangnya yang berasal dari Padang, Sumatera Barat, Indonesia, "Al-Makki" adalah nisbat untuk tempat lahir dan tempat tinggalnya, dan "Al-Syafi'i" adalah nisbat untuk madzhab yang dianut.

Ketika masih kecil Syeikh Yasin belajar kepada ayahnya sendiri yang bernama lengkap Syeikh Al-Mua'ammar Muhammad Isa Al-Fadani. Selanjutnya, Syeikh Yasin belajar kepada pamannya yang bernama Syeikh Mahmud Al-Fadani. Kedua tokoh tersebut adalah dua orang yang mendorong Syeikh Yasin agar terus belajar dan mencintai ilmu. Selanjutnya, beliau belajar secara formal di Madrasah Al-Shaulatiyah Al-Hindiyah. Sesuai dengan namanya, madrasah ini didirikan oleh seorang wanita India yang bernama Shaulatiyah Al-Nisa' pada tahun 1874 M. Selain belajar formal di Madrasah al-Shaulatiyah Al-Hindiyah, Syeikh Yasin juga belajar secara non formal dengan mengikuti pengajian-pengajian di Masjidil Haram. Ketika di buka Madrasah Dar Al-'Ulum Al-Diniyyah, Syeikh Yasin juga belajar disini. Setelah lulus, Syeikh Yasin menjadi pengajar di Madrasah ini, bahkan diangkat sebagai rektor atau pimpinannya.

Pada masa kejayaanya Madrasah Dar Al-'Ulum Al-Diniyyah hampir sejajar dengan Universitas al-Azhar di Kairo Mesir. Selain mengajar di Madrasah Dar Al-'Ulum Al-Diniyyah, Syeikh Yasin juga mengajar di Masjidil Haram, tepatnya di serambi masjid yang terletak diantara Bab Ibrahim dan Bab Al-Wada'. Tokoh ini juga mengajar di rumah dan perpustakaan pribadinya. Syeikh Yasin mendapat izin mengajar di Masjidil Haram sejak taun 1969 M dari Ri'asah Al-Qadla Wa Al-Mudarrisin, lembaga pemerintah yang mengurusi perizinan mengajar. Diperkirakan ada sekitar 60 karya Syeikh Yasin, baik yang besar maupun yang kecil. Syeikh Yasin menulis kitab dalam bidang Hadits, Fikih, Ilmu Balaghoh, Ilmu Falak, Ilmu Mantiq, dan lain-lain.

Syeikh Yasin adalah seorang Ulama Sunni, pengikut pendapat Syeikh Imam Abu Al-Hasan Al-Asy'ari dan Abu Manshur Al-Maturidi, dan dalam bidang Fikih bermadzhab Syafi'i. Syeikh Yasin dapat dikatakan sebagai pemrakarya pendidikan perempuan di Arab Saudi. Seperti diketahui, di Arab Saudi. Akses ke dunia pendidikan bagi perempuan tidak seluas bagi laki-laki. Maka dengan alasan itu Syeikh Yasin berusaha keras agar kaum perempuan juga mendapat pendidikan yang layak. Syeikh Yasin tidak hanya menyampaikannya dalam ceramahnya. Pada tahun 1362 H/1943 M, Syeikh Yasin mendirikan Madrasah Al-Banat Al-Ibtida'iyyah (Madrasah Puteri Tingkat Dasar). Dapat dikatakan itu adalah Madrasah pertama untuk kaum perempuan di Arab Saudi. Berikutnya, pada tahun 1377 H/1957 M, Syeikh Yasin mendirikan Institut Pendidikan Guru Putri. Dari lembaga pendidikan yang didirikan Syeikh Yasin ini, banyak lahir perempuan terdidik di Arab Saudi.

Syeikh Yasin wafat pada musim haji, tepatnya 28 Dzulhijjah 1410 H/1990 M. Kini, puing-puing Madrasah Dar Al-'Ulum Al-Diniyyah yang terletak di kawasan Jarwal, Syi'ib Ali, menjadi saksi bisu atas kebesaran Syeikh Yasin bin Isa Al-Fadani Al-Makki.

Kontributor : Tia Nurmanila
Editor : Kholili

..............................
Pustaka : 5 Ulama Internasional dari Pesantren (Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani w. 1897, Syaikh Ahmad Khatib al-Minankabawi w. 1916, Syaikh Mahfuzh al-Turmusi w. 1920, Syaikh Ihsan al-Jamfasi w. 1952, Syaikh Yasin al-Fadani 1990), M. Sholahudin (L. 12 Mei 1982). Nouse Pustaka Utama, Cetakan 1, Rajab 1433/Juni 2012, Cetakan 2, Jumadil Awal 1435/Maret 2014.