5 Ulama Internasional Dari Pesantren
MATAN PANDEGLANG - Ulama yang masyhur di dunia Islam Internasional juga
banyak di lahirkan dari tanah Nusantara (read_Indonesia), yang bukan hanya
seorang kiai biasa, namun juga seorang pengarang kitab yang produktif dan
mengajar di luar Nusantara, seperti Kota Makkah dan Madinah serta lain sebagainya.
Yang bukan hanya masyhur atau terkenal di tanah kelahirannya (Indonesia),
namun juga tersohor ke antero dunia. Mereka adalah :
- Syeikh Nawawi Al-Bantani
(W. 1897 M)
- Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (W. 1916 M)
- Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi/At-Tarmasi (W. 1920 M)
- Syeikh Ihsan Al-Jamfasi (W. 1952 M)
- Syeikh Yasin Al-Fadani (W. 1990 M).
Beliau semua itu dikenal sebagai ulama internasional karena dua alasan.
Pertama, mereka tinggal di Mekkah dan mengajar disana hingga akhir hayat.
Kedua, mereka menulis dalam bahasa arab dan sebagian besar karyanya di
terbitkan oleh penerbit-penerbit di Timur Tengah.
1. Syeikh Nawawi Al-Bantani (W. 1314 H/1897 M)
Syaikh Nawawi al-Bantani adalah penulis kitab kuning (Mushannif) asal
Indonesia yang paling terkenal diantara para mushannif lainnya. Namun masih
banyak orang yang belum tahu bahwa ada dua nama Ulama Tersohor di dunia
internasional yaitu Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Imam Al-Nawawi Al-Dimasqi
(Damaskus). Adapun yang membedakan diantara Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Imam Al-Nawawi
adalah penambahan “al” di depan
namanya. Syeikh Nawawi yang berasal dari Banten tanpa ada tambahan "al",
sedangkan Imam Nawawi yang berasal dari
Damaskus selalu ada tambahan "al" (al-Nawawi).
Jika ditelusuri silsilahnya Syeikh Nawawi al-Bantani masih keturunan
Nabi Muhammad saw. Silsilah lengkapnya adalah, Muhammad Nawawi (Syaikh
Nawawi al-Bantani) bin kiai Umar bin kiai Arabi bin Ali bin Ki Jamad bin Ki
Janta bin Ki Masbuqil bin Ki Maskun bin Ki Maswi bin Tajul Arsy (Pangeran
Suryararas) bin Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah Cirebon bin Raja
Amatuddin Abdullah bin Ali Nuruddin bin Maulana Jamaluddin Akbar Husain bin
Imam Sayyid Ahmad Syah Jalal bin Abdullah Adzmah Khan bin Amir Abdullah Malik
bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin Sayyid Ali Khali Qasim
bin Sayyid Alwi bin Imam Ubaidillah bin Imam Ahmad Muhajir Illalah bin Imam Isa
al-Naqib bin Imam Muhammad Naqib bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam Ali Zainal
Abidin bin Sayyidina Husain bin Sayyidatuna Fathimaj al-Zahra binti Nabi
Muhammad saw.
Silsilah yang disebutkan ini adalah garis keturunan dari jalur ayah.
Adapun garis keturunan dari jalur ibu yaitu Syeikh Muhammad Nawawi (Syaikh
Nawawi al-Bantani) bin Nyai Zubaidah bin Muhammad Singaraja. Syeikh Nawawi
adalah anak sulung. Tokoh sekaligus Ulama tersohor ini mempunyai enam adik
kandung, yaitu Ahmad Syihabuddin, Tamim, Said, Abdullah, Syakilah, dan
Syahriyah. Syeikh Nawawi Al-Bantani lahir pada masa pemerintahan Sultan
Muhammad Rafiuddin (1813-1820 M) dari kerajaan Banten.
Syaikh Nawawi al-Bantani belajar kepada ayahnya sejak usia delapan
tahun, beliau diajarkan dasar-dasar agama Islam dan bahasa arab. Ketika berusia
delapan tahun, Syeikh Nawawi Al-Bantani bersama kedua adiknya, yaitu Tamim dan
Ahmad belajar kepada Haji Sahal, seorang ulama terkenal di Banten saat
itu. Kemudian, setelah belajar kepada Haji Sahal, mereka bertiga belajar kepada
Raden Haji Yusuf, seorang ulama yang tinggal di Purwakarta. Yang
menarik, ketika berangkat belajar, Syeikh Nawawi Al-Bantani yang masih berusia
delapan tahun dan kedua saudaranya meminta izin kepada ibunya, lalu apa jawab
sang ibu, Nyai Zubaidah?
"Aku do'akan dan aku restui kalian berangkat mengaji, tapi
dengan satu syarat : Jangan pulang sebelum kelapa yang aku tanam ini
berbuah!" begitu kata Nyai Zubaidah.
Diperkirakan Syeikh Nawawi Al-Bantani dan kedua adiknya belajar di
pesantren selama enam tahun karena pohon kelapa paling cepat berbuah
membutuhkan waktu enam tahun. Kali ini Kiai Umar memiliki tenaga pengajar yang
handal untuk membantunya mengajar para santri. Kiai Umar wafat ketika Syeikh
Nawawi Al-Bantani berusia 13 tahun, maka Kiai muda inilah yang akhirnya
meneruskan pengajian yang bertempat di masjid tersebut. Tetapi itu tidak lama,
ketika berusia 15 tahun Syeikh Nawawi Al-Bantani berketetapan hati untuk
melangsungkan ibadah haji ke tanah suci sekaligus belajar disana. Kemudian
beliau sempat pulang ke tanah kelahirannya sekali, lalu berangkat lagi, dan
beliau tidak pulang lagi ke Nusantara.
Selama hidupnya, Syeikh Nawawi Al-Bantani menikah sebanyak dua kali.
Istri pertamanya bernama Nasimah dan istri keduanya bernama Hamdanah. Dari
istri keduanya, Syeikh Nawawi Al-Bantani dikaruniai lima orang anak, yaitu Mariam,
Nafisah, Ruqayah, Zuhra dan Abdul Mu'thi. Hanya Abdul Mu'thi satu-satunya
anak lelaki Muhammad Nawawi. Abdul Mu'thi pun meninggal sewaktu masih kecil.
Maka, disampul kitab “Nihayah Al-Zain” akan kita temukan nama Abdul
Mu'thi yang artinya "Ayah Abdul Mu'thi". Ada salah satu cucu Syeikh
Nawawi Al-Bantani yang namanya tidak asing bagi masyarakat Jakarta atau
Indonesia pada umumnya. Beliau adalah K.H M'aruf Amin (L. 1943 M.), tokoh yang
pernah menjadi wakil ketua PWNU DKI Jakarta, Syuriyah dan Mustsyar PBNU, hingga
menjadi Ketua Komusi Fatwa MUI Pusat, bahkan wakil presiden RI 2019-2024 saat
ini.
Syeikh Nawawi Al-Bantani berangkat ke tanah suci pada 1830 M dalam usia
15 tahun. Pada 1833 M, beliau sempat pulang ke tanah kelahirannya, namun
kembali lagi ke Mekkah karena di Banten merasa kurang memiliki kebebasan dalam
bertindak akibat penjajah Belanda yang terus mengawasi gerak geriknya. Kurang
lebih 30 tahun Syeikh Nawawi Al-Bantani memperdalam ilmunya di tanah Hijaz. Selama
disana, Syeikh Nawawi Al-Bantani berguru kepada sejumlah Ulama besar. Diantara
mereka adalah Syeikh Sayyid Ahmad Al-Nahrawi, Syeikh Ahmad Dimyathi, Syeikh
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syeikh Muhammad Khatin Al-Hanbali, Syeikh Abdul
Ghani Bima, Syeikh Yusuf Sumbulaweni, dan Syeikh Abdul Hamid al-Daghastani. Syeikh
Nawawi al-Bantani tinggal di Mekkah, tepatnya di perkampungan Syi'ib Ali yang
berjarak kurang lebih 500 meter dari Masjidil Haram. Di tempat inilah Syeikh
Nawawi Al-Bantani tinggal hingga akhir hayatnya.
Martin Van Bruinessen, seorang antropolog asal Belanda,
menginformasikan bahwa Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah salah satu dari tiga
ulama besar asal Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Dua orang lainnya
adalah Syaikh Mahfuzh Al-Turmusi (W. 1335 H/1917 M) dan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi
(W. 1334 H/ 1816 M).
Ada juga Pendapat lain menyebutkan, bahwa Syeikh Nawawi Al-Bantani
adalah salah satu dari tujuh orang yang berkesempatan mengajar di Masjidil
Haram. Empat orang lainnya adalah Syeikh Muhtaram asal Banyumas, Syeikh Bakir
asal Banyumas, Syeikh Asy'ari asal Bawean dan Syeikh Abdul Hamid asal Kudus.
Banyak tokoh Islam atau ulama asli Indonesia yang pernah belajar kepada Syeikh
Nawawi Al-Bantani. Diantara mereka adalah Syeikh K.H. Muhammad Khalil Al-Bangkalani
(Bangkalan Madura) (W. 1925 M), Hadratussyeikh K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari (W.
1947 M), Syeikh K.H. Ahmad Dahlan (W. 1923 M), dan K.H. Nahjun dari kampung
Gunung Mauk Tangerang.
Syeikh Nawawi Al-Bantani termasuk ulama yang produktif, karya-karyanya yang
lahir membahas tentanf disiplin ilmu keislaman, seperti Fikih, Tasawuf, Tafsir,
Akidah (Teologi), dan lain-lain. Karya terbesar Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah
“Marah Labid li Kasyf Ma'ani Al-Qur'an Al-Majid” yang juga disebut “Al-Tafsir
Al-Munir Li Ma'lim Al-Tanzil”. Kitab ini terdiri atas dua jilid besar,
jilid pertama terdiri dari 511 halaman dan jilid kedua terdiri dari 476
halaman. Diantara penerbit di Timur Tengah yang telah menerbitkannya adalah Dar
al-Fikr Beirut, Lebanon. Karena karyanya ini, Syeikh Nawawi Al-Bantani dijuluki
Sayyid 'Ulama' al-Hijaz (Penghulu Ulama Hijaz). Butuh waktu tiga tahun
(1302-1305 H/1887-1890 M) Syeikh Nawawi Al-Bantani untuk menyelesaikan karya
monumentalnya ini.
Kitab yang pertama kali ditulis oleh Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah “Sullam al-Munajah Syarh Safinah al-Shalah”. Kitab ini ditulis hanya dalam beberapa hari saja. Kitab ini ditulis untuk dipersembahkan kepada gurunya yang bernama Sayyid Ahmad al-Nahrawi. Berikutnya menyusul kitab-kitab yang lain. Orang yang berjasa dalam penerbitan karya Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani Al-Jawi, seorang ulama asal Patani, Thailand, yang menjadi pengajar di Mekkah.
Kitab yang pertama kali ditulis oleh Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah “Sullam al-Munajah Syarh Safinah al-Shalah”. Kitab ini ditulis hanya dalam beberapa hari saja. Kitab ini ditulis untuk dipersembahkan kepada gurunya yang bernama Sayyid Ahmad al-Nahrawi. Berikutnya menyusul kitab-kitab yang lain. Orang yang berjasa dalam penerbitan karya Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani Al-Jawi, seorang ulama asal Patani, Thailand, yang menjadi pengajar di Mekkah.
Syeikh Nawawi Al-Bantani memiliki postur tubuh yang kecil, seperti
orang Indonesia pada umumnya. Konon Syeikh Imam Nawawi Al-Bantani tidak suka
makan ikan laut sejak kecil. Ada dua kemungkinan mengapa ulama asal Banten ini
tidak mau makan ikan laut. Pertama, Syeikh Nawawi Al-Bantani melaksanakan
anjuran dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim agar pelajar tidak banyak makan
ikan laut. Dalam kitab tersebut dikatakan, Jalinus atau Galen, yang
merupakam seorang filosofi asal Yunani mengatakan bahwa delima itu baik untuk
dimakan dan ikan laut itu tidak baik untuk dimakan. Bab tersebut membicarakan
makanan apa yang sebaiknya dimakan atau dijauhi oleh pelajar agar sukses dalam
mencari ilmu.
Syeikh Nawawi Al-Bantani menghadap pada Sang Pencipta pada tahun 1314
H/1897 H, tepatnya pada 25 Syawal 1314 H. Ulama asal Banten yang sangat
produktif ini dimakamkan di pemakaman Ma'la, dikampung Si'ib Ali Mekkah.
Meskipun makamnya ada di tanah suci yang ribuan kilo meter jauhnya dari Banten,
kampung halamannya, Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Banten. Senantiasa
dikunjungi banyak orang setiap tanggal 25 Syawal. Mereka mengadakan haul untuk
memperingati wafatnya tokoh yang mengharumkan tanah jawa ini.
2. Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (W. 1334 H/1916 M)
Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi adalah salah satu ulama besar asal
Indonesia yang mendapatkan kehormatan mengajar di Masjidil Haram. Banyak tokoh
di Indonesia baik dari kalangan muslim tradisionalis maupun modernis yang
menjadi muridnya, misalnya Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari (Pendiri
Nahdlatul Ulama) dan KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah).
Syeikh Ahmad Khatib adalah anak pasangan Abdul Lathif dan Limbak Urai.
Abdul Lathif maupun Limbak Urai adalah keturunan bangsawan-ulama di tanah
Minang. Abdul Lathif adalah saudara Muhammad Salim, dan Sultan Muhammad Salim
adalah ayah KH. Agus Salim (w. 1954 M).
Jadi, Syeikh Ahmad Khatib masih saudara sepupu dengan KH. Agus Salim.
Silsilah mereka jika ditelusuri terus keatas akan sampai kepada Abdurrahman bin
Tuanku Syaikh Imam Abdullah bin Abdul Aziz, yaitu seorang ulama Minangkabau
pada masa perang Paderi. Silsilah lengkapnya adalah Abdul Lathif bin Abdur
Rohman bin Abdullah bin Abdul Aziz. Kemudian, Limbak Urai, ibu Syaikh Ahmad
Khatib adalah saudara Gadam Urai, dan Gadam Urai adalah ibu Syaikh Thahir
Jalaluddin al-Azhari (w. 1956 M). Jadi, Syaikh Ahmad Khatib masih saudara
sepupu dengan Syeikh Thahir Jalaluddin. Limbak Urai dan Gadam Urai adalah anak
Tuanku Nan Rancak yang juga seorang ulama Minangkabau pada masa perang Paderi.
Adapun ibu Limbak Urai dan Gadam Urai adalah anak Siti Zainab binti Tuanku
Bagindo Khatib, pembantu regen (bupati) Agam.
Syeikh Ahmad Khatib belajar kepada orang-orang di sekitarnya, familinya
dan para ulama di kampungnya. Beliau hidup di lingkungan yang agamis sehingga
tidaklah sulit baginya untuk mendapatkan pendidikan agama dari orang di
sekelilingnya. Beliau juga masuk Sekolah Rakyat (SR), sekolah formal setingkat
SD untuk tingkatan sekolah saat itu, lalu melanjutkan ke Sekolah Guru
(Kweekschool) yang dikenal dengan nama Sekolah Raja di Bukit tinggi.
Berikutnya, sang ayah mengajak Syeikh Ahmad Khatib menunaikan ibadah haji pada
1871 M (Hamka) atau 1887 M (Deliar Noer).
Syeikh Ahmad Khatib kurang lebih selama sembilan tahun belajar ilmu
keislaman kepada sejumlah ulama di tanah suci. Tercatat orang-orang yang pernah
menjadi gurunya adalah Syeikh Bakr Syatta, Syeikh Yahya Al-Qalbi, Syeikh Zaini
Dahlan, Syeikh Muhammad Shalih Al-Kurdi, dan lain-lain. Martin Van
Bruinessen, seorang peneliti asal Belanda, berpendapat bahwa Syeikh Ahmad
Khatib pernah belajar kepada Syeikh Nawawi Al-Bantani.
Syeikh Ahmad Khatib dikenal sebagai orang Melayu (Indonesia) yang sopan
dan pandai. Syeikh Muhammad Al-Kurdi ingin menjadikan Syeikh Ahmad Khatib
sebagai menantunya dengan menikahkan beliau dengan anaknya yang bernama Khadijah.
Dan Syeikh Ahmad Khatib pun tidak menolak tawaran dari gurunya ini. Maka, pada
1296 H/1879 M dilaksanakan pernikahan antara Khadijah binti Syeikh Muhammad
Shalih Al-Kurdi yang asli Timur Tengah. Kemudian dari pernikahannya ini, Syeikh
Ahmad Khatib dikaruniai dua orang anak, yaitu Abdul Karim Al-Khatib dab Abdul
Malik Al-Khatib.
Sayangnya, pada tahun 1300 H/1883 M, Khadijah binti Syeikh Muhammad Al-Kurdi
dipanggil sang pencipta. Tidak ingin melihat Syeikh Ahmad Khatib terlalu lama
menduda, maka Syeikh Muhammad Al-Kurdi menawari Syeikh Ahmad Khatib untuk
menikahi adik Khadijah yang bernama Fathimah. Dari pernikahan yang kedua ini,
Syeikh Ahmad Khatib mendapatkan dua orang anak, yaitu Khadijah binti Ahmad
Khatib dan Abdul Hamid Al-Khatib.
Ada yang mengatakan bahwa keberanian adalah faktor yang sangat
menentukan untuk meraih keberhasilan, begitu juga dengan Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Karena keberaniannya, ulama besar kelahiran Minangkabau ini akhirnya diangkat
sebagai pengajar di Masjidil Haram. Maka, dengan jabatan menantunya mengajar di
Masjidil Haram, Syeikh Muhammad Shalih Al-Kurdi sangat bersyukur. Begitu juga
guru-guru Syeikh Ahmad Khatib lainnya. Mengharapkannya tetap di tanah suci
untuk membantu mengajar umat Islam di sana. Meskipun tidak pulang ke tanah air,
Syeikh Ahmad Khatib tetap memiliki peran dan kontribusi terhadap perkembangan Islam
di tanah kelahirannya. Syeikh Ahmad Khatib juga mendukung usaha para pemuda
Indonesia untuk lolos dari cengkraman kolonial Belanda, misalnya dengan memberi
dukungan penuh terhadap lahirnya organisasi Sarekat Islam (SI).
Syeikh Ahmad Khatib merupakan ulama yang produktif. Menurut H. Zainal
Abidin Ahmad sebagaimana dikutip M. Bibit Suprapto, jumlah karya tulis Syeikh
Ahmad Khatib mencapai 49 karya, dan sebagian besar karyanya mengulas tentang Fikih.
Oleh karena itu banyak tokoh-tokoh besar di tanah air yang menjadi murid dari
Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Karya-karya Syeikh Ahmad Khatib dipelajari
umat Islam di Suriah, Turki dan Mesir, selain di Indonesia. Ada dua karya ulama
asal Minangkabau ini yang masih di pelajari di Pesantren, yaitu “Fath Al-Mubin”
dan “Al-Bafahat 'Ala Syarh Al-Waraqat”. Kitab yang disebutkan terakhir
ini adalah ulasan atas karya Imam Al-Haramain 'Abdul Malik Al-Juawaini (w. 478
H/1085 M) yang berjudul “Al-Waraqat Fi Ushul Al-Fiqh”.
Ulama besar asal Minangkabau, Indonesia ini menghadap sang pencipta
pada 9 Jumadil Awal 1334 H/14 Maret 1916 M. Jenazahnya di kebumikan di tanah Makkah.
3. Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi/At-Tarmasi (W. 1338 H/1920 M)
Beliau dilahirkan pada tahun 1285 H/1842 M, Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi
memiliki nama asli Muhammad Mahfudzh. Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad
Muhammad Mahfudzh Al-Turmusi bin Abdullah bin Abdul Mannan bin Demang
dipomenggolo 1 . Tokoh yang disebutkan terakhir ini masih keturunan Ketok
Jenggot, salah seorang punggawa Keraton Surakarta. Ketok Jenggot itulah yang
telah berjasa membuka hutan yang kemudian dikenal sebagai Dusun Tremas.
Syaikh Mahfudzh kecil belajar kepada ayahnya sendiri, yaitu Kiai
Abdullah yang menjadi pengasuh Pesantren Tremas. beliau lahir ketika pesantren
ini berusia 12 tahun, sedangkan Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi lahir pada tahun 1842
M dan pesantren Tremas didirikan pada 1830 M. Beliau juga pernah belajar kepada
kakeknya, Kiai Abdul Mannan atau Mas Bagus Sudarso, namun hanya sebentar. Syeikh
Mahfudzh sendiri lebih banyak belajar kepada ayahnya. Beerbagai disiplin ilmu
keislaman yang dipelajarinya dari sang ayah adalah Ilmu Tauhid, Ilmu membaca Al-Qur'an
dan Ilmu Fikih. Cara mengajar sang ayah adalah dengan sistem sorogan, yakni
murid atau Syeikh Mahfudzh membaca kitab langsung di hadapan gurunya (Kiai
Abdullah). Jika ada bacaan yang salah, guru akan mengingatkannya. Sistem
sorogan adalah cara belajar yang dikembangjan pesantren tempo dulu sebelum
dikenal sistem klasikal (berkelas-kelas).
Setelah cukup lama belajar kepada sang ayah, Syeikh Mahfudzh
melangkahkan kakinya ke Semarang. Kemudian beliau belajar kepada KH. Shaleh
Darat, seorang kiai kharismatik saat itu yang dikenal sangat produktif menulis
buku-buka agama Islam dalam bahasa jawa pegon. Kiai Shaleh Darat adalah salah
seorang Kiai besar di tanah Jawa pada abad ke-19 M. Kiai Abdullah berfikir
untuk mempersiapkan penggantinya kelak yang akan mengasuh pesantrennya. Maka,
kedua anaknya, Muhammad Mahfudzh (Syeikh Mahfudzh) dan Muhammad Dimyathi
dikirim ke tanah suci untuk belajar kepada sejumlah ulama disana. Dan ketika beliau
berdua berangkat ke tanah suci, usia Syeikh Mahfudzh saat itu sudah menginjak
30 tahun.
Guru Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi diantaranya:
- Syeikh Ahmad Al-Minsyawi, seorang ulama ahli Qiro'at Sab'.
- Syeikh 'Amr bin Barkat Al-Syami, seorang ulama besar asal Syam (Suriah) yang masih murid dari Syeikh Ibrahim Al-Bajuri.
- Syeikh Musthafa bin Muhammad bin Sulaiman Al-'Afifi, seorang ulama yang ahli Nahwu Shorof dan Ushul Fiqh.
- Al-Imam Al-Hasib Wa Al-Wari' Al-Nasib Al-Sayyid Husain, seorang ulama ahli hadits pokok yaitu Shahih Al-Bukhari dan Shahih Al-Muslim.
- Syeikh Sa'ad bin Muhammad Bafasil Al-Hadlrami, adalah seorang ulama ahli fikih yang menjabat sebagai mufti Syafi'iyyah di Makkah.
- Syeikh Muhammad Al-Syarbini Al-Dimyathi, seorang ulama ahli fikih dan Qira'at yang berasal dari Dimyathi, Mesir dan menetap di Makkah.
- Syeikh Al-Jalil Sayyid Muhammad Amin bin Ahmad Ridlwan Al-Daniyyi Al-Madani, seorang ulama besar di Madinah.
- Syeikh Sayyid Abu Bakr bin Al-Sayyidi Muhammad Syatha', seorang ulama besar yang mendapat julukan "Syeikh Al-Masyayikh" atau "Gurunya para Guru".
Syeikh Mahfudzh dikenal sebagai Ahli Hadits. Beliau mempunyai otoritas
keilmuwan untuk mengajarkan Kitab Shahih Al-Buhkari, kitab hadits paling
otoritatif ini kepada umat islam. Syeikh Mahfudzh adalah mata rantai sanad yang
ke-23 dari penulis kitab tersebut, Imam Al-Buhkari yang hidup lebih dari 1000
tahun yang lalu. Murid Syeikh Mahfudzh yang paling terkenal adalah Hadratus
Syaikh Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang. Kiai Hasyim Asy’ari terkenal sebagaj
ahli hadits, sebuah keahlian yang diperoleh dari Syeikh Mahfudzh. Selain ahli
dalam bidang hadits, Syeikh Mahfudzh juga dikenal ahli Qira'at Sab'. Bahkan,
sebenarnya Syeikh Mahfudzh tidak hanya ahli dalam tujuh macam bacaan namun
hingga 10 Qira'at (Qira'at 'Asyr). Kesepuluh macam qira'at ini diyakini umat Islam
memiliki sanad yang mutawattir hingga Nabi Muhammad SAW yang mustahil salah
dalam periwayatannya.
Syeikh Mahfudzh juga berperan dalam penyebaran Tarekat Syadziliyah di
Nusantara lewat para muridnya di tanah air. Tarekat Syadziliyah adalah Tarekat
yang didirikan oleh Asy-Syeikh Al-Imam Abu Al-Hasan Al-Syadzily (W. 656 H/1258
M) yang memiliki nama lengkap 'Ali bin 'Abdullah bin 'Abd Al-Jabbar Abu Al-Hasan
Al-Syadzilly.
Syeikh Mahfudzh termasuk diantara 7 ulama asal Indonesia yang
diperbolehkan mengajar di Masjidil Haram. Ke’alimannya telah diakui di dunia
internasional. Diantara orang yang pernah belajar kepada Syeikh Mahfudzh Al-Turmusi
adalah Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang, KH. Abdul Wahab
Hasbullah Tambakberas, Jombang, KH. Raden Asnawi Kudus, KH. Shaleh Tayu Pati,
KH. Dahlan Kudus, dan lain-lain.
Syeikh Mahfudzh telah menetap di tanah suci sejak berusia 30 tahun
(1872 M). Sejak awal menginjakan kaki disana, beliau telah membulatkan tekad
untuk menetap hingga wafat. Setelah lebih dari 40 tahun menetap di tanah suci, tepatnya
pada tahun 1338 H/1920 M Syeikh Mahfudzh menghembuskan nafas terakhirnya di skota
Makkah. Pendapat lain mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 1917 M. Ulama
besar kelahiran Tremas, Pacitan Jawa Timur ini dimakamkan di pemakaman Ma'la Makkah
yang berdekatan dengan Makam Ummul Mu'minin Sayyidah Khadijah R.A.
4. Syeikh Ihsan Al-Jamfasi (W. 1371 H/1952 M)
Bakri, Bahri atau Bahrul Ulum, itulah nama kecil Syeikh Ihsan. Bakri
lahir pada tahun 1901 M dari pasangan KH. Muhammad Dahlan dan Nyai Artimah.
Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, yaitu anak pertama berjenis kelamin
perempuan yang wafat ketika masih kecil, lalu Bakri, Dasuki dan Marzuqi.
Sayangnya kedua orangtua Bakr, Kiai Dahlan dan Nyai Artimah, bercerai ketika
Bakri masih berusia enam tahun. Setelah orangtuanya bercerai, Bakri dan Dasuki
diasuh oleh neneknya yang bernama Nyai Isti'anah di Jampes, beberapa puluh
meter utara pabrik rokok Gudang Garam saat ini atau utara kota Kediri. Adapun
ibunya, Nyai Artimah tinggal di kampung Banjar Melati, kurang lebih 2 kilometer
arah barat daya dari alun-alun kota Kediri. Marzuqi, adik Baqri yang bungsu,
ikut tinggal bersama ibunya. Marzuqi ini kelak dikenal sebagai KH. Marzuqi
Dahlan (W. 1975 M), pengasuh pesantren Lirboyo. Beliau adalah ayah KH. A. Idris
Marzuqi, pengasuh pesantren Lirboyo saat ini.
Orang-orang terdekatnya yang awal mula mengajarinya mengaji. Mereka
adalah nenek dan ayahnya, Nyai Isti'anah dan Kiai Dahlan. Selanjutnya Bakri
belajar di Pesantren Jampes, pesantren yang didirikan dan diasuh ayahnya.
Setelah bekal ilmunya dirasa cukup, Bakri melanjutkan studi nya ke sejumlah
pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Beberapa pesantren Selain pesantren
ayahnya, pesantren yang pertama kali menjadi tempatnya belajar adalah pesantren
Bendo Pare Kediri, Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren KH. Dahlan Semarang,
Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang, Pesantren Gondonglegi
Nganjuk, dan Pesantren Bangkalan Madura.
Meski beliau anak seorang Kiai ternama di Kediri, Bakri tidak pernah
menonjolkan dirinya sebagai keturunan orang besar. Setelah dirasa cukup ilmu
yang diperoleh, Bakri pulang kembali ke Kediri untuk membantu ayahnya di
Pesantren Jampes. Pada 1926 M, Bakri melaksanakan ibadah haji dan sejak saat
itu namanya diganti dengan Ihsan yang kelak dikenal sebagai Syeikh Ihsan Al-Jamfasi.
Dalam catatan, Syeikh Ihsan menikah sebanyak 5 kali. Gadis yang pertama
dinikahinya adalah gadis yang berasal dari Desa Sumberejo, Poncokusomo, Malang.
Namun pernikahan ini tidak berlangsung lama. Kemudian Syeikh Ihsan menikah lagi
dengan Nyai Rhodiyah, putri KH. Muhyin dari Durenan, Trenggalek yang masih ada
hubungan keluarga dengannya. Namun, lagi-lagi pernikahannya berakhir dengan
perceraian. Nyai Rhodiyah akhirnya menikah lagi dengan KH. Djazuli Utsman,
pendiri pesantren Ploso Mojo, Kediri. Dari rahim Nyai Rhodiyah ini kelak lahir
KH. Hamim Thohari Djazuli yang lebih akrab dengan sebutan Gus Miek, tokoh
sentral Jama'ah Dzikrul Ghofilin dan pendiri Jama'ah Sema’an Al-Qur'an Jantiko
Mantab.
Gus Miek adalah tokoh kharismatik dan nyentrik yang akrab dengan dunia
malam. Kemudian Syeikh Ihsan menikah yang ketiga kalinya dengan seorang gadis
asal Desa Kapu Pagu Kediri, namun ini juga tidak berlangsung lama. Berikutnya,
Syeikh Ihsan menikah yang keempat kalinya dengan gadis dari Polaman Kediri,
tapi juga berakhir dengan perceraian. Di tengah status sebagai duda setelah
gagal menikah 4 kali, Syeikh Ihsan menulis karya monumentalnya, Siraj
al-Tahlibin. Pada tahun 1932 M kepengasuhan pesantren Jampes diserahkan
kepada Syeikh Ihsan Jampes. Pada tahun itu pulabeliau menikah yang ke-5 kalinya
sekaligus untuk yang terakhir kalinya. Gadis yang dinikahinya bernama Surati
asal Desa Kayen, Pagu Kediri. Beliau dulunya adalah murid dari Kiai Dahlan.
Kelak Surati dikenal dengan nama Nyai Zainab. Hanya dari pernikahan yang
terakhirnya ini, Syaikh Ihsan Al-Jamfasi dikaruniai dengan 8 orang anak yaitu,
Husniyah (meninggal sewaktu masih kecil), Hafsah, Muhammad, Abdul Malik,
Rumaisa, Mahmudah, Anisah dan Nusaiziyah.
Ribuan orang telah belajar kepada Syeikh Ihsan Al-Jamfasi. Dahulu pada
masa Kiai Dahlan santri di pesantren Jampes hanya berjumlah 500 orang, namun
pada masa Syaikh Ihsan, santrinya meningkat menjadi 1000 orang.
Apa yang kita tulis adalah cerminan dari apa yang telah kita baca.
Begitu dikatakan banyak orang. Ini juga berlaku bagi Syeikh Ihsan. Ulama besar
asal Kediri ini memiliki minat baca yang tinggi. Beliau membaca kitab kuning
(berbahasa arab) dengan berbagai macam judul dan genre. Beliau juga baca
buku-buku berbahasa Indonesia (bertuliskan huruf latin) adalah sesuatu yang
masih asing bagi kalangan pesantren saat itu. Jika tidak sedang membaca, ia
habiskan waktunya untuk menulis. Maka tidak mengherankan, jika Syeikh Ihsan
memiliki karya yang sangat tebal dalam bahasa arab, meskipun tinggal di Kediri,
Jawa Timur, tidak di Makkah sebagaimana ulama lainnya. Konon Raja Faruq,
penguasa Mesir tahun 1936-1952 M, pernah mengirim utusan kepada Syeikh Ihsan
agar bersedia mengajar di Universitas al-Azhar, namun Syaikh Ihsan menolaknya.
Beliau lebih memilih mengajar santri-santrinya di pesantren warisan ayahnya.
Karya seseorang dapat hidup lebih lama karena terus dibaca banyak
orang. Namun tidak demikian dengan penulisnya. Kitab Siraj al-Thalibin
terus dikaji banyak orang di seluruh penjuru dunia hingga detik ini, namun
penulisnya telah puluhan tahun meninggalkan tulisannya. Tepatnya pada 12
Dzulhijjah 1371 H/September 1952 M, Syeikh Ihsan menghembuskan nafas
terakhirnya. Beliau meninggal pada jam 12.00, hari Senin. Jenazahnya di
makamkan di Desa Putih, kurang lebih 1 kilometer sebelah selatan pesantren
Jampes atau kurang lebih 1 kilometer utara pabrik rokok Gudang Garam, Kediri.
5. Syeikh Yasin Al-Fadani (W. 1410 H/1990 M)
Syeikh Yasin bin 'Isa Al-Fadani, sebenarnya lahir di Makkah bukan di
Indonesia. Namun beliau adalah Ulama besar di tanah suci yang berasal dari Indonesia.
Nisbah dibelakang namanya, Al-Fadani, menunjukan bahwa nenek moyangnya berasal
dari Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Banyak ulama di tanah air ketika sedang
menunaikan ibadah haji atau umrah akan menyempatkan diri untuk sowan kepada Syeikh
Yasin Al-Fadani. Beliaupun pernah ke Indonesia, tepatnya ke sejumlah pesantren,
untuk menemui para Kiai dan memberi ijazah sanad sejumlah kitab yang selama ini
menjadi pedoman kaum Ahlus Sunnah Wal Jama'ah atau diajarkan di pesantren.
Maka, para Kiai memiliki sanad kitab-kitab yang diajarkan dari Syeikh Yasin Al-Fadani,
dari gurunya, dari gurunya, hingga penulisnya.
Nama asli beliau adalah Muhammad Yasin. Lahir di kota Makkah pada 1335
H/1916 M. Adapun nama lengkapnya adalah Abu Al-Faidl 'Alam Al-Din Muhammad
Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani Al-Makki Al-Syafi'i. Kata “Abu al-Faidl”
adalah nama kunyah-nya (panggilan), “’Alam Al-Din" adalah nama
laqabnya (julukan atau gelar), "Muhammad Yasin" adalah nama 'Alamnya
(nama diri), "Muhammad Isa" adalah nama ayahnya, "Al-Fadani"
adalah nisbat nenek moyangnya yang berasal dari Padang, Sumatera Barat,
Indonesia, "Al-Makki" adalah nisbat untuk tempat lahir dan
tempat tinggalnya, dan "Al-Syafi'i" adalah nisbat untuk
madzhab yang dianut.
Ketika masih kecil Syeikh Yasin belajar kepada ayahnya sendiri yang
bernama lengkap Syeikh Al-Mua'ammar Muhammad Isa Al-Fadani. Selanjutnya, Syeikh
Yasin belajar kepada pamannya yang bernama Syeikh Mahmud Al-Fadani. Kedua tokoh
tersebut adalah dua orang yang mendorong Syeikh Yasin agar terus belajar dan mencintai
ilmu. Selanjutnya, beliau belajar secara formal di Madrasah Al-Shaulatiyah Al-Hindiyah.
Sesuai dengan namanya, madrasah ini didirikan oleh seorang wanita India yang
bernama Shaulatiyah Al-Nisa' pada tahun 1874 M. Selain belajar formal di
Madrasah al-Shaulatiyah Al-Hindiyah, Syeikh Yasin juga belajar secara non
formal dengan mengikuti pengajian-pengajian di Masjidil Haram. Ketika di buka
Madrasah Dar Al-'Ulum Al-Diniyyah, Syeikh Yasin juga belajar disini. Setelah
lulus, Syeikh Yasin menjadi pengajar di Madrasah ini, bahkan diangkat sebagai
rektor atau pimpinannya.
Pada masa kejayaanya Madrasah Dar Al-'Ulum Al-Diniyyah hampir sejajar
dengan Universitas al-Azhar di Kairo Mesir. Selain mengajar di Madrasah Dar Al-'Ulum
Al-Diniyyah, Syeikh Yasin juga mengajar di Masjidil Haram, tepatnya di serambi
masjid yang terletak diantara Bab Ibrahim dan Bab Al-Wada'. Tokoh ini juga
mengajar di rumah dan perpustakaan pribadinya. Syeikh Yasin mendapat izin
mengajar di Masjidil Haram sejak taun 1969 M dari Ri'asah Al-Qadla Wa Al-Mudarrisin,
lembaga pemerintah yang mengurusi perizinan mengajar. Diperkirakan ada sekitar
60 karya Syeikh Yasin, baik yang besar maupun yang kecil. Syeikh Yasin menulis
kitab dalam bidang Hadits, Fikih, Ilmu Balaghoh, Ilmu Falak, Ilmu Mantiq, dan lain-lain.
Syeikh Yasin adalah seorang Ulama Sunni, pengikut pendapat Syeikh Imam
Abu Al-Hasan Al-Asy'ari dan Abu Manshur Al-Maturidi, dan dalam bidang Fikih
bermadzhab Syafi'i. Syeikh Yasin dapat dikatakan sebagai pemrakarya pendidikan
perempuan di Arab Saudi. Seperti diketahui, di Arab Saudi. Akses ke dunia
pendidikan bagi perempuan tidak seluas bagi laki-laki. Maka dengan alasan itu
Syeikh Yasin berusaha keras agar kaum perempuan juga mendapat pendidikan yang
layak. Syeikh Yasin tidak hanya menyampaikannya dalam ceramahnya. Pada tahun
1362 H/1943 M, Syeikh Yasin mendirikan Madrasah Al-Banat Al-Ibtida'iyyah
(Madrasah Puteri Tingkat Dasar). Dapat dikatakan itu adalah Madrasah pertama
untuk kaum perempuan di Arab Saudi. Berikutnya, pada tahun 1377 H/1957 M, Syeikh
Yasin mendirikan Institut Pendidikan Guru Putri. Dari lembaga pendidikan yang
didirikan Syeikh Yasin ini, banyak lahir perempuan terdidik di Arab Saudi.
Syeikh Yasin wafat pada musim haji, tepatnya 28 Dzulhijjah 1410 H/1990
M. Kini, puing-puing Madrasah Dar Al-'Ulum Al-Diniyyah yang terletak di kawasan
Jarwal, Syi'ib Ali, menjadi saksi bisu atas kebesaran Syeikh Yasin bin Isa Al-Fadani
Al-Makki.
Kontributor : Tia Nurmanila
Editor : Kholili
Pustaka : 5 Ulama Internasional dari Pesantren (Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani
w. 1897, Syaikh Ahmad Khatib al-Minankabawi w. 1916, Syaikh Mahfuzh al-Turmusi
w. 1920, Syaikh Ihsan al-Jamfasi w. 1952, Syaikh Yasin al-Fadani 1990), M.
Sholahudin (L. 12 Mei 1982). Nouse Pustaka Utama, Cetakan 1, Rajab 1433/Juni
2012, Cetakan 2, Jumadil Awal 1435/Maret 2014.






