Hijrah Milenial Era Sosial Media

Matan Pandeglang

MATAN PANDEGLANG. Bicara milenial tentu tidak pernah lepas dari peran media sosial, bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar aktivitas kita adalah aktivitas media sosial. Salah satu ciri dari era milenial adalah menjamurnya berbagai media komunikasi, yang memberikan nilai positif di satu sisi, tapi di sisi lain menyebabkan penyakit adaptasi. Contohnya adalah fenomena hijrah belakangan ini yang sedang amat diminati oleh pemuda masa kini. Meningkatnya ketakwaan secara drastis pada remaja kekinian yang selanjutnya dengan penuh suka cita saling berlomba-lomba menunjukkan identitas dirinya sebagai pemuda berhijrah.

Tapi sebelumnya, pernahkah kita mengamati mengapa banyak fenomena hijrah ini justru terjadi di kalangan masyarakat menengah atas perkotaan yang memilikin akses informasi lebih mudah, sedangkan sangat jarang kita jumpai tren hijrah ini pada masyarakat kebawah pedesaan yang cenderung tidak terlalu terbuka terhadap akses informasi. Tentu saja kemudahan informasi menjadi penyebab hal ini. Masyarakat perkotaan dapat dengan mudah mengakses ceramah-ceramah online dari ustaz-ustaz kekinian yang isinya cenderung ringan. Biasanya materi yang diberikan bukanlah materi-materi fiqih atau materi berbobot seperti halnya bahtsul masail di pondok pesantren tradisional, melainkan materi-materi seperti sedekah, cinta, taqwa, atau pertemanan.

Berbeda dengan masyarakat desa yang biasanya mendapatkan materi agama secara kultural turun temurun atau dari pondok pesantren tradisional. Ustaz-ustaz online kekinian ini biasanya memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang instan, karena memang itulah yang disukai oleh pemuda kebanyakan. Lain halnya dengan ustaz-ustaz jebolan pesantren saat menjawab pertanyaan fiqih, hukum berjilbab, misalnya. Pasti akan menjabarkan jawaban dari berbagai mazhab dan macam-macam perbedaan pendapat ulama. Tapi saat pertanyaan ini dijawab oleh ustadz-ustadz kekinian, jawabannya adalah wajib. 

Para pelaku hijrah ini biasanya menyempitkan definisi hijrah itu sendiri, misalnya hijrah diartikan dengan berjilbab lebih lebar dari sebelumnya, bercelana lebih cingkrang dari sebelumnya, atau bahkan hanya sekadar mengubah istilah bahasa Indonesia menjadi bahasa arab saja. Yang sebelumnya memanggil saya menjadi ana, kamu menjadi anta, akhi, ukhti, dan lain sebagainya.
Sayangnya, betapa banyak pemuda yang memberi label “hijrah” terhadap dirinya sendiri untuk menunjukan kepada publik bahwa dirinya telah berubah kemudian memberi stigma kepada orang-orang yang dianggapnya belum berhijrah. Atau coba kita ingat lagi, apa yang pernah kita katakan tentang perempuan tidak berjilbab? Kita sebut mereka telanjang? Atau pelacur? Lantas kalau begitu, apakah hijrah hanya soal permukaan saja?

Penulis : Aulia Choirunnisa
Matan Pandeglang
Matan Pandeglang Mahasiswa Ahlit Thariqah An-Nahdliyah (MANTAN) Pandeglang - Banten.

Tidak ada komentar untuk "Hijrah Milenial Era Sosial Media"