Islam Dengan Tafsir Sesat, Sumber Perpecahan Umat
MATAN PANDEGLANG. Islam dengan Tafsiran Sesat, sumber perpecahan umat. Pernah suatu ketika penulis mendengar seorang khotib yang sedang khutbah membawakan ayat "Innallahashthofaahu 'Alaikum wa Zaadahu Basthotan fil Ilmi wal Jism,". Ia menafsirakan ayat tersebut bahwasanya seorang pemimpin (presiden) itu harus seorang yang kuat dan tegas sesuai dengan yang di firmankan Allah dalam Al-Qur'an bukan yang lemah dan 'mencla-mencle' menyindir calon yang tidak ia dukungnya. Tak mau kalah penceramah dari kubu lawannya dalam suatu pengajian menyitir ayat 26 surat Al-Qashash. Akhirnya terjadi saling dukung mendukung menggunakan ayat tanpa menghiraukan konteks ayatnya.
Sebenarnya, mendukung calon presiden, gubernur dan lain-lain, sah-sah saja, hanya saja tidak bijak dan tidak etis jika persuasinya disampaikan dalam khutbah jum'at, pengajian dan event-event yang sejatinya tidak boleh dikotori oleh provokasi dan politisasi. Mimbar yang seharusnya berisi pesan-pesan rahmah ternodai oleh hawa nafsu dan amarah. Padahal jika merujuk kepada kitab-kitab tafsir maka konteks ayatnya tidak seperti itu atau tidak tepat.
Kemudian, beberapa minggu belakangan ini, saat dunia digemparkan oleh wabah Covid-19, ada saja orang yang mengaitkan peristiwa Covid-19 dengan ayat Al-Qur'an, bahwasanya Corona sudah tertera di dalam Al-Quran, Surat Al-Ahzab ayat 33. Ada yang menafsirkan dengan ini, dengan itu, dengan anu dan lain sebagainya. Padahal secara garis besar surah Al-Ahzab ayat 33 ini membicarakan hak-hak perempuan sebagai seorang istri yang sekaligus juga membicarakan hak-hak perempuan yang ingin berkarir, bukan membicarakan virus corona yang menggemparkan dunia itu.
Pemerkosaan ayat dengan menafsirkan ayat sesuai dengan keinginannya atau hawa nafsunya seringkali menimbulkan perpecahan umat. Hal demikian bukan terjadi di zaman sekarang saja, tapi juga ketika zaman para sahabat, sehingga jangan heran jika Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Usman bin Affan, dan Sayyidina Ali bin Abi Tholib wafat dibunuh oleh kalangan muslim sendiri yang tidak sependapat terhadap penafsiran ayat dan cenderung menuruti syahwat. Metode cocoklogi atau penafsiran ayat menurut syahwat yang berkembang di masyarakat lambat laun akan mematikan metode ilmiah dalam penafsiran Al-Qur'an dan Hadits, bahkan di bidang sains dan teknologi bahayanya lagi dapat memecah belah umat jika tidak disikapi dengan bijak.
Hal demikian itu terjadi karena kedangkalan dalam menafsirkan ayat, padahal dalam menafsirkan Al-Qur'an dibutuhkan banyak perangkat-perangkat pendukung seperti nahwu, shorof, sabab nuzul, Nasikh Mansukh dan masih banyak lagi perangkat yang lainnya. Kedangkalan tafsir ayat lahir dari kedangkalan berfikir. Hal ini berkaitan dengan mutu pendidikan yang rendah di Indonesia, khususnya bagi umat muslim. Masyarakat tak diajak berpikir kritis, rasional dan mendalam. Yang ditekankan dan dipuja justru kepatuhan buta dan mental menghafal. Ditambah lagi penafsiran-penafsiran ayat dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan pesantren atau mungkin mengenyam pesantren bahkan hingga mendapat julukan kyai, hanya saja birahi kepentingannya sangat dominan sehingga membutakan nurani.
Buah dari kedangkalan menafsirkan ayat adalah tafsir islam yang sesat. Tafsir sesat melahirkan kebencian di dalam hati. Tafsir sesat juga melahirkan kebencian terhadap orang lain yang berbeda pandangan. Di abad 21, Islam dengan tafsir sesat adalah salah satu sumber berbagai persoalan politik dan perekonomian umat.
Mengutip perkataan Ibnu Al-Jauzi dalam kitab Akhbar Al-Hamqa Wa Al-Mughaffalin,
“Ada empat orang: tiga orang, silakan ajak bicara; yang satu orang lagi, jangan. Tiga orang itu: pertama, orang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu; silakan ajak bicara. Kedua, orang yang tahu tapi dia melihat dirinya tidak tahu; silakan ajak bicara juga. Ketiga, orang yang tidak tahu dan dia melihat dirinya memang tidak tahu; silakan ajak bicara juga. Sedangkan yang satu lagi: orang yang tidak tahu tapi sok tahu; jangan ajak bicara -dia orang dungu.”
Penulis : Mochamad Bukhori Zainun
Banten, 31 Maret 2020


Tidak ada komentar untuk "Islam Dengan Tafsir Sesat, Sumber Perpecahan Umat"
Posting Komentar