Tauladan Rasul SAW dan Sayyidina Ali KW, Menghormati Nonmuslim
MATAN PANDEGLANG. Di zaman sekarang, manusia lebih banyak sibuk untuk mengurusi urusan akidah orang lain dibandingkan akhlak dan adabnya sendiri. Mereka sibuk menerka-nerka hitam dan putih, baik dan buruk, benar dan salah. Dan parahnya lagi sebagian manusia berbangga memamerkan dan menjunjung tinggi ajaran agama yang mereka yakini kebenarannya sendiri (menurut akal mereka), bagi mereka yang paling baik bila berhubungan dengan "Agama".
Pada akhirnya mereka lupa bahwa
tugas manusia seindah-indahnya memperbanyak kebaikan daripada keburukan di alam
semesta ini. Sentimen keagamaan yang berlebihan terkadang menjadi penyebab
sulitnya mengendalikan prilaku penganutnya (pemeluk Agama) dalam menjalin
perbedaan beragama diatara keberagaman ini.
Mengingat, ada benarnya juga apa
yang dituturkan Milad Hanna dalam buku Qabulul Akhar, bahwa
setiap pemeluk agama atau pengikut aliran akan memahami pemahaman dan penafsiran
tersendiri terhadap teks-teks suci mereka. Pemahaman itu tidak jarang juga ikut
melahirkan perasaan paling benar dan istimewa. Ketika perasaan itu semakin
menumpuk dan mengkristal, maka sentimen kolektif suatu agama dapat melahirkan
fanatisme buta dan semangat kebencian. Terkadang sentimen kolektif itu
berkembang begitu cepatnya menelusuri jalan kekerasan hingga berujung
peperangan.
Jika dalam Islam sendiri selalu
mengajarkan umatnya untuk menghormati dan berbuat baik kepada sesama, tanpa
memandang agama apa yang dipegangnya, begitupun dengan Agama lainnya yang
mengajarkan dan memerintahkan untuk berbuat baik kepada siapa saja. Pernahkah
mendengar atau memabaca kisah Rasulullah SAW. Ketika Rasul SAW menghormati
seorang Yahudi yang tua renta dan buta yang sering sekali menghina Rasulullah
SAW. Rasulullah justru membalasnya dengan kebaikan karena kasih sayangnya
kepada orang tua itu, bahkan menyuapinya ketika ia sakit, hingga Rasul SAW
telah wafat dan digantikan oleh sahabat Abu Bakar RA, orang tua itu merasakan
ada yang lain ketika tangan sayyidina Abu Bakar RA menyentuh bibirnya.
“Siapakah kamu?”
“Aku Abu Bakar.”
“Lalu kemanakah orang yang biasa
manyuapiku?”
“Beliau adalah Rasulullah SAW, dan
beliau telah wafat.” Sayyidina Abu Bakar tidak kuasa menahan air matanya.
Begitulah teladan Rasulullah SAW, yang
seharusnya dijadikan acuan untuk selalu berkiprah berbuat baik kepada yang
lebih tua atau muda dan siapa saja yang berbeda agama sekalipun.
Bukan itu saja kalau kita simak
salah satu kisah sayyidina Ali Karamallahu Wajhah dengan seorang kakek dari Nasrani
di dalam Kitab Mawâ’idul Ushfuriyah ada hikayat penuh ‘ibrah yang bisa
kita ambil dan terapkan untuk belajar menghormati orang lain tanpa
membicarakan apa agamanya atau apakah anda muslim atau nonmuslim.
Suatu hari, Sayyidina Ali KW. Berjalan
menuju ke Masjid untuk shalat berjama'ah Subuh. Di jalan, ia bertemu dengan
seorang laki-laki tua yang berjalan pelan dan tenang. Padahal saat itu,
Sayyidina Ali harus cepat sampai di Masjid. Karena rasa hormat dan ta'dzhîm
yang begitu dalam nan indahnya, Sayyidina Ali tidak mau mendahului kakek
tersebut meski fajar kian menjulang dan matahari segera terbit.
Begitu sampai di pintu masuk
masjid, ternyata sang kakek tidak terus melaju. Ia tidak belok mengikuti
jama'ah Subuh. Diam-diam Sayyidina Ali KW. Baru mengetahui kalau sang kakek
adalah seorang Nasrani. Setelah masuk ke masjid, ternyata Sayyidina Ali KW. masih
bisa berjama’ah dengan Rasulullah SAW. yang saat itu sedang ruku'. Tidak
seperti biasa, kali ini Rasulullah SAW. memanjangkan ruku'nya hingga dua kali,
sehingga Sayyidina Ali KW. bisa sholat berjama’ah Subuh tanpa telat.
Usai jama’ah, Sayyidina Ali KW.
bertanya kepada Rasulullah SAW;
“Mengapa ruku’nya engkau panjangkan
ya Rasul, padahal selama ini tidak pernah aku melihat yang demikian?”
"Tadi, ketika aku ruku' dan
mengucapkan Subhâna Rabbiyal A’dzhîm, —sebagaimana wirid ruku' selama ini,— dan
ketika aku angkat kepala, Jibril AS. tiba-tiba datang dan meletakkan sayapnya
di pundakku dan ia lama membiarkanku dalam posisi ruku'. Barulah setelah Jibril
mengangkat sayapnya aku bisa mengangkat kepala," Jawab Rasulullah Saw.
"Mengapa Jibril melakukannya,
ya Rasul?" Tanya para sahabat yang hadir.
"Aku tidak menanyakan hal
itu."
Melihat percakapan yang terjadi
antara Rasulullah SAW. dan para sahabat tersebut, Jibril AS. kemudian datang
dan berkata;
"Wahai Muhammad, Ali tadi
sebetulnya ingin cepat-cepat sampai berjama'ah. Namun ketika di jalan ia
berpapasan dengan seorang kakek dan ia tidak tahu kalau kakek itu seorang
Nasrani. Ia tidak mendahului kakek tersebut karena menghormati sepuhnya (sudah
tua) dan memberikan haknya sebagai orangtua. Allah kemudian memerintahkanku
untuk menahanmu dalam ruku' sehingga Ali tidak terlambat dalam berjama'ah Subuh.”
“Dan ini bukan merupakan sebuah
keajaiban yang paling ajaib. Allah bahkan telah memerintahkan Malaikat Mika'il AS.
Menahan Matahari cukup lama dengan sayapnya, sehingga ia tidak segera terbit
(dari ufuk Timur) sebab menghormati Sayyidina Ali KW.”
Kata Jibril : “inilah derajat mulia
bagi orang yang menghormati seorang tua renta meski Nasrani.”
Sebagaimana Sayyidina Ali Karamallahu
Wajhah yang begitu menaruh rasa hormatnya kepada seorang kakek tua dari
Nasrani, tanpa memandang agamanya apa, Maka sepatutnya kita sebagai sebagai
umatnya Rasulullah SAW dan sebagai seorang hamba, untuk dapat menitukan
taudalan-tauladan mulia Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Baik dalam menghormati yang muda maupun yang lebih
tua, baik juga yang berbeda keyakinan dengan kita. Bukan untuk sibuk melihat
keyakinan agamanya apa yang ia anut. Apakah ia masih muda atau lebih tua, jika
tidak seiman dibiarkan.
Karena Rasullullah SAW sendiri dan Sayyidina
Ali KW juga para sahabatnya yang lain, mencerminkan suri tauladan yang indah,
untuk selalu belajar berbuat ta'dzim dan menghormati kepada yang bukan islam
sekalipun, Beliau selalu mementingkan akhlak dan adab yang menjadikan pondasi
menebar kebaikan terhadap sesamanya. Karena sejatinya Islam adalah Rahmat bagi
seluruh manusia.
Dari kisah tersebut jelas bahwa
akhlak dan adab lebih penting dibandingkan akidah seseorang. Lantas, dengan
rasa penuh kasih sayang dan ta'dzim-lah yang membuat Islam menjadi cinta kasih
bagi seluruh alam.
Oleh karena itu, kisah dari Sayyidina
Ali KW dengan seorang kakek Nasrani, adalah bekal untuk kita jadikan pegangan
agar selalu menuai kedamaian dan kasih sayang kepada siapa saja dan kapanpun serta
dimanapun. Karena sejatinya, manusia yang memiliki rasa kasih sayang kepada
sesama dan menjadi penuai kedamaian dilingkungan akan mudah di cintai oleh
penduduk langit dan bumi. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi
makhluk yang lainnya, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan dibumi sambil
menuai kemanfaatan sebisa mungkin walau kecil dan sedikit saja. Karena hal yang
terpenting adalah bisa memberikan pencerahan dan perdamaian tanpa perselisihan
dibumi pertiwi ini.
Editor : Kholili


Tidak ada komentar untuk "Tauladan Rasul SAW dan Sayyidina Ali KW, Menghormati Nonmuslim"
Posting Komentar